بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - RAIH MASA DEPANMU BERSAMA STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - TERDEPAN - MODEREN - DAN - ISLAMI, - KALAU ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN SILAKAN DIKIRIMKAN KE KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

RUKUN ISLAM

RUKUN ISLAM : 1. DUAKALIMAH SYAHADAT, 2. SHOLAT, 3. PUASA, 4. ZAKAT, 5. NAIK HAJI

RUKUN IMAN : 1. PERCAYA KEPADA ALLAH, 2. PERCAYA KEPADA MALAIKAT, 3. PERCAYA KEPADA KITAB ALLAH, 4. PERCAYA KEPADA NABI DAN RASUL ALLAH, 5. PERCAYA KEPADA HARI AKHIRAT, 6. PERCAYA KEPADA QODHA & QHADAR ALLAH

PILIH MENU

Selasa, 16 Desember 2014

OBAT SAKIT HATI


OBAT SAKIT HATI


FIRMAN ALLAH Dalam Surat ”(QS An-Nahl [16]:126-127)

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”(QS An-Nahl [16]:126-127)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat (QS. Ali Imran [3] 133-134)

“Bersegeralah kamu dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya untuk memperoleh ampunan yang besar dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yangmenafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yangMENAHAN AMARAHnya dengan sabar dan memaafkan orang-orang yang menzalimi mereka. Ini adalah kebaikan yang disukai oleh Allah dari orang yang mengerjakannya…”(QS. Ali Imran [3] 133-134)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat (QS Ali Imran [3]:186)

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimuDan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”(QS Ali Imran [3]:186)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat ”(QS [4]:149)
“Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.”(QS [4]:149)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat (QS Al-A’raf [7]:199-201)
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”(QS Al-A’raf [7]:199-201)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat

“… hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? (QS An-Nuur [24] : 22)
FIRMAN ALLAH Dalam Surat

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; danagar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.”(QS Muhammad [47]:31)
“…bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS Al-Anfal [8]:46)

FIRMAN ALLAH Dalam Surat

“…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(QS [39]:10)
FIRMAN ALLAH Dalam Surat

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar…”(QS [46]:35)
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”(QS Al-Muzzammil [73]:10)

“Allah berfirman: “Wahai manusia! Telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dan obat bagi hati. Lalu mengapa kamu tidak sudi berbuat baik, kecuali kepada orang yang berbuat baik kepadamu, tidak mau menyambung tali silaturahim, kecuali kepada orang yang mengunjungimu, tidak mau bercakap-cakap kecuali kepada orang yang mau bicara kepadamu, tidak mau memberi makan selain pada orang yang memberi makan kepadamu dan tidak mau menghormat selain pada orang yang menghormatimu. Tidak ada keutamaan bagi seseorang yang merasa lebih utama daripada orang lain.


Seorang Mukmin adalah 
orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yang tetap berbuat baik terhadap orang yang melakukan keburukan kepadanya, menyambung tali silaturahim, mengampuni orang yang berbuat salah kepadanya, memenuhi janji pada orang yang mengkhianatinya, tetap mau bicara dengan orang yang tidak mau akur pada dirinya, tetap menghormati orang yang merendahkannya. 
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui pada semua perbuatanmu!”(Hadits Qudsi Peringatan Kesepuluh, dalam Al-Mawa’idz fil Ahadis al-Qudsiyyah; Peringatan-peringatan Ilahi Dalam Hadits Qudsy (Imam Al-Ghazali), 2005)

“Nabi Musa a.s bertanya kepada Allah,
 “Ya Rabbi, siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut Pandangan-Mu ?”

Allah menjawab,
 “Orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), ia mampu segera memaafkan”.
Ia tidak melampiaskan balas dendam atau sakit hatinya terhadap orang itu meski hanya sedikit saja, bahkan ia segera memaafkannya semata-mata hanya karena ALLAH “.
(Hadits Qudsi)

Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya Allah, Maha Pengampun dan suka kepada orang yang suka memberi ampun.”(Kanzul-’Ummal, 2/77), dan “Barangsiapa mau memberi maaf di saat dia mampu (membalas), Allah akan mengampuni dosa-dosanya besok di hari yang penuh dengan kesulitan.”(HR. al-Bukhari)

Rasulullah Saw bersabda,
”Tiga hal, aku menjamin demi Dia yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya apabila engkau sungguh menetapinya. Harta tidak akan berkurang karena sedekah, maka bersedekahlah. Tiadalah seorang lelaki memberi maaf(menahan diri dari tindakan menuntut balas) atas kezaliman–terhadap dirinya–demi mengharap wajah Allah, melainkan dengannya Allah akan memberi tambahan kemuliaan baginya di hari kiamat. Tiadalah seseorang membuka pintu meminta-minta bagi dirinya, melainkan baginya Allah akan membukakan pintu kefakiran.”

‘Uqbah ibn Amir berkata,”Suatu hari aku menemui Rasulullah Saw. Dengan tiba-tiba aku mengejutkan beliau dan meraih tangannya,(Atau, dengan tiba-tiba beliau mengejutkan aku dan meraih tanganku). Kemudian beliau berkata,”Wahai ‘Uqbah, aku akan memberitahumu tentang akhlak dunia dan akhirat yang paling utama. Engkau menyambungi orang yang telah memutus hubungan denganmu, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, memaafkan orang yang telah menzalimimu.”
Rasulullah Saw bersabda,”Musa a.s berucap,’Ya Rabb, siapakah hamba-Mu yang paling mulia menurut-Mu?’ Lalu dijawab,’Orang yang memaafkan meski dia mampu membalas.’” Oleh karena itu Abu al-Darda berkata ketika ditanya tentang orang yang paling mulia,”Yaitu orang yang memaafkan meski dia mampu membalas. Maka kalian, berikanlah pemaafan, Allah akan memuliakan kalian.
Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,”Bila hamba-hamba Allah tengah di perhentian (mahsyar), ada penyeru yang berseru,’Orang yang punya hak imbalan pada Allah harap bangkit dan silakan masuk surga.” Lalu ditanyakan,”Siapa orang yang imbalannya ada pada Allah?” Rasulullah Saw bersabda,”Orang-orang yang pemaaf terhadap sesama manusia.”
Yazid ibn Maysarah berkata,”Jika engkau selalu berdoa memohonkan kecelakaan bagi orang yang telah menzalimimu, Allah berfirman,’Sesungguhnya ada orang lain yang berdoa memohonkan kecelakaan bagimu karena engkau telah menzaliminya. Jika engkau mau, Aku akan mengabulkannya dan mengabulkan permohonan kecelakaan atas dirimu. Namun jika engkau mau, Aku akan menangguhkan kalian berdua sampai hari kiamat, hingga maaf dari-Ku menampung kalian berdua.”
Ibn ‘Umar meriwayatkan dari Abu Bakar,”Telah sampai kepada kami bahwa Allah menyuruh seorang penyeru, lalu penyeru berseru,’Barangsiapa memiliki sesuatu (simpanan) pada Allah, silakan berdiri.’ Maka berdirilah para ahli maaf, lalu Allah Swt memberi mereka balasan hasil dari pemaafan mereka terhadap orang-orang.”
Al-Mubarak ibn Fadhalah berkata,”Suatu hari, Suwar ibn ‘Abdullah dikirim sebagai utusan dari penduduk Bashrah kepada Abu Ja’far. Saat itu aku sedang di sana. Tiba-tiba ada seorang lelaki dihadirkan, dan Abu Ja’far memerintahkan untuk membunuhnya. Maka aku berkata,’Seorang lelaki muslim hendak dibunuh di hadapanku.’ Kemudian aku berkata pada Abu Ja’far,’Maukah engkau kuberitahu satu hadis yang pernah aku dengar dari Al-Husain?’ Abu Ja’far berkata,’Apa hadisnya?’ Aku berkata,’Aku mendengar al-Husain berkata,’Bila hari kiamat tiba, Allah mengumpulkan seluruh manusia di satu dataran di mana mata bisa melihat mereka semua dan penyeru bisa memperdengarkan seruannya kepada mereka. Lalu sang penyeru berdiri : Barangsiapa memiliki imbalan pada Allah dan kemuliaan di sisi-Nya, silakan berdiri. Ternyata tidak ada yang berdiri selain orang yang pemaaf.’ Abu Ja’far berkata,’Sumpah demi Allah, engkau telah mendengarnya dari Al-Husain?’ Aku berkata,’Sungguh demi Allah, aku telah mendengarnya dari Al-Husain.’ Maka Abu Ja’far pun memberikan perintah,’Bebaskan dia.’”
Dalam satu riwayat dikisahkan, seorang rahib datang menemui Hisyam ibn Abdul Malik. Lalu Hisyam berkata kepada sang rahib,”Apakah engkau berpandangan bahwa Dzu al-Qarnain adalah seorang nabi?” Sang rahib menjawab,”Tidak. Tetapi dia telah diberi apa yang telah diberikan kepadanya, 4 perkara yang ada padanya. Kalaupun mampu (menuntut balas), dia memaafkan. Apabila berjanji, dia memenuhinya. Apabila berbicara, dia jujur. Dan dia tidak menimbun hasil kerja hari yang sedang dialaminya untuk esok.”
“…jika kamu mengendalikan amarahmu, Sang Mahaadil juga akan menarik kembali hukuman-Nya untuk dosa-dosamu yang bisa saja dihukum oleh murka Ilahiah-Nya. Maafmu akan dibalas dengan ampunan-Nya bagimu. Adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan karena usaha menanggung kesulitan yang disebabkan oleh saudara-saudaramu yang seiman?”-(Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi)
Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin 3/61, Imam Al-Ghazali berkata,”Sabar adalah menerima dengan lapang dada hal-hal yang menyakitkan dan menyusahkan sertamenahan amarah atas perlakuan kasar. Barangsiapa mengeluh bila diperlakukan buruk oleh orang lain, maka hal itu menunjukkan masih buruknya akhlak orang tersebut, karena akhlak yang mulia sesungguhnya adalah menerima secara lapang dada semua bentuk perlakuan yang menyakitkan.”
“…tidak termasuk pemaaf bila seseorang memberikan maaf kepada orang lain, namun hatinya masih dongkol dan benci kepada orang yang melakukan kesalahan kepadanya, meskipun tidak sampai merencanakan pembalasan.”(Ahmad al-Hufi, dalam “Min Akhlaaqin-Nabi”, hlm. 46)
“Memaafkan (al-’afw) adalah engkau memiliki hak untuk membalas atau menghukum, tetapi engkau tidak melakukannya dan malah membebaskan diri darinya, dan ini adalah inti hilm (kelemah lembutan) dan menahan marah (kazhmul-ghayzh).”
“Futuwwah (kejantanan) adalah kedudukan yang pada hakikatnya merupakan kebajikan kepada manusia, tidak menyakiti mereka dan sabar dalam menghadapi gangguan mereka, yang digunakan sebagai penunjang akhlak yang baik dalam bergaul bersama mereka…Engkau juga harus melupakan gangguan orang lain terhadap dirimu,agar hatimu menjadi bersih dan engkau tidak melancarkan balasan atau kebencian kepadanya.”
“Seseorang belumlah disebut memiliki futuwwah selama di dalam kalbunya masih ada rasa dendam kesumat, karena sikap ini menunjukkan sifat seorang budak yang belum sampai pada kelezatan kemerdekaan sebagai hamba Allah. Mana mungkin seseorang disebut sebagai merdeka selama di dalam kalbunya penuh dengan bara angkara.”
(* Dikutip dari : [1] sub-judul “Pemaaf” dan “Lemah Lembut”, dalam : Akhlak Rasul Menurut Bukhari dan Muslim; Abdul Mun’im al-Hasyimi; 2009; [2] Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in; Ibnu Qayyim Al-Jauziyah/ Madarijus Salikin, Pendakian Menuju Allah, Penjabaran Kongkrit “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, 1998; [3] Menuju Muslim Kaffah, Menggali Potensi Diri; Toto Tasmara; 2000;[4] Al-Mawa’idz fil Ahadis al-Qudsiyyah; Peringatan-peringatan Ilahi Dalam Hadits Qudsy (Imam Al-Ghazali), 2005; [5] “Selamat Sampai Tujuan-Panduan Bagi Penempuh Jalan Iman”, 2003; diterjemahkan oleh Syaikh Tosun Bayrak al-Jerrahi, dari Kitab Kunh Ma la Budda minhu li al-Murid (What the Seeker Needs)- Syaikh Al-Akbar Ibnu Arabi; 1997; [6] Kitab Tashfiyat al-Qulub min Daran al-Awzar wa al-Dzunub; Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs; Syekh Yahya ibn Hamzah al-Yamani; 2012)

TAHAP ILMU RASA



Ilmu rasa itu, ada tujuh tahap atau tujuh makam.

1) Maqam taubat
2) Maqam wara’
3) Maqam zuhud
4) Maqam fakir
5) Maqam sabar
6) Maqam tawakkal
7) Maqam ridho

Ketujuh-tujuh tangga (maqam) itu, adalah melibatkan penyucian hati secara kesufian (pemurnian hati secara makrifat). Tujuh pemurnian hati diatas, adalah penyusian hati mengikut turutan tertib dari satu maqam kepada suatu maqam. Setiap tangga penyusian hati itu, adalah bertujuan untuk sampai kepada tahap tercapainya “pembebasan hati dari segala ikatan dunia”. Bertujuan untuk mencipta kedudukkan atau suasana hati yang tidak lagi terpandang makhluk!.

Suasana hati orang-orang yang berada didalam ketujuh-tujuh maqam tersebut itu, adalah orang yang memandang bahawa setiap apa yang dicipta oleh Allah dan setiap apa yang belum tercipta itu, tidak lagi beharga dihatinya. Tidak beharga itu, seumpama tertanggalnya sehelai bulu romo dari tubuhnya!. Tamak kepada dunia atau tertilik hati kepada makhluk itu, merupakan mata pedang yang sedang membunuh kehidupan para sufi!.

Kehidupan seorang ahli makrifat atau seorang ahli sufi itu, adalah orang yang merdeka jiwanya dari tertilik makhluk!. Untuk menikmati ketujuh-tujuh tangga ilmu rasa itu, adalah mereka-mereka yang sanggup membelakangi selain Allah secara mutalak atau membelakagi dunia secata total. Rasa makrifat kepada Allah itu, “tidak boleh dimadu” dengan mahluk!. Rasa ingat kepada Allah itu, tidak boleh dimadu dengan ingat kepada makhluk!.

Tidak mungkin tercapai hati seseorang untuk sampai kepada tahap penyucian hati dari ikatan atau belenggu dunia, selama dunia atau selama sifat makhluk ini masih terlekat dihatinya!. Untuk meyisihkan hati dari tertakluk kepada dunia itu, hendaklah melalui tujuh maqam rasa atau tujuh martabat rasa!. Selepas melalui tujuh maqam taubat itu, barulah datangnya ilmu “rasa”.
Beza rasa orang awam berbanding rasa orang makrifat itu, adalah
Rasa makrifat orang awam itu, adalah diatas dasar “terlepas dari dosa-dosa”. Manakala rasa makrifat orang makrifatullah itu, adalah diatas dasar “tidak lalai dari mengigati Allah!”.

Untuk sampai atau untuk melalui ketujuh-tujuh anak tanggak atau tingkatan maqam rasa, hendaklah melalui tujuh peringkat.

1) Rasa Melalui Taubat.
Perkara taubat itu, bukan sahaja diajar oleh agama Al-Quraan, malahan diajar juga oleh agama-agama Injil, Taurat dan Zabur. Semua 4 kitab terdahulu memulakan ilmu dengan upacara taubat.

Taubat Orang Awam
Taubat bagi golongan orang-orang awam (golongan feqah) itu, adalah dengan melafaskan ucapan penyesalan. Sesal pelangaran atau ketidak patuhan kepada perintah Allah. Dengan menghentikan “seketika” perkara-perkara yang mendatangkan dosa. Dengan berjanji untuk menghentikan seketika dan berjanji untuk tidak megulangi doda buat “seketika”. Bilamana gagal memenuhi sumpahnya, lalu mereka memuhun ampun pada Tuhan. Bertaubat orang awam sebanyak 67 kali satu hari, namun mengulangai berbuat dosa sebanyak 167 kali satu hari. Bertaubat lagi dan buat lagi, ini taubat golongan orang awam (orang yang berilmu syariat atau feqah).

Taubat Orang Makrifat.
Manakala taubat bagi golongan yang berilmu makrifat atau yang berilmu hakikat itu, adalah bertaubat mereka atas kelalaian terhadap Allah Taala. Dipandang berdosa besar kiranya mereka lupa, lalai atau alpa kepada Allah walaupun sesaat!.

Taubat orang makrifat itu, adalah bererti mengalamani “mati didalam hidup!”.
Dari Mana Asal Datangnya Dosa, Sehingga Memaksa Kita Bertaubat?
Dosa itu, bukan sesuatu perkara yang baru dan dosa itu, bukan pendatang yang terjadi kemudian!. Dosa atau pahala itu, sesungguhnya datang secara semulajadi bersama-sama dengan diri kita sedari azali!.
Segala perbuatan yang mendatangkan dosa atau pahala itu, adalah datangnya dari ketetapan Allah. 

Untuk membuang atau untuk mendatangkan dosa itu, sesungguhnya adalah datannya dari Allah. Kita selaku makhluk yang dijadikan, tidak berdaya untuk mendatang atau membuangkan dosa!. Untuk itu, mari kita serahkan diri kepada Allah, semoga diri tidak lagi menanggung dosa!.
Bukan hanya pahala datangya dari Allah, sesungguhnya dosa dan taubat juga adalah datangnya daripada Allah!. Taubat, dosa atau pahala itu, sesungguhnya adalah datangnya dari anugerah atau datangnya dari kurnia Allah. Taubat itu, sesungguhnya anugerah Allah. Datangnya taubat itu, sesungguhnya adalah dari Allah kepada manusia, tidak dari manusia kepada Allah. Datangnya perasaan penyesalan atau tercetusnya perasaan menyesal itu, adalah dari Allah, bukan datangnya dari diir sendiri!.

Jika boleh saya bertanya kepada tuan, siapakah yang menjadikan diri kita dan siapakah yang menjadikan perbuatan kita?. “Wallah hu Kholakokum, Wamatakmalun” (Aku jadikan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat). Sesungguhnya taubat itu, bukan datangnya dari diri kita, tetapi datangnya dari Allah. Taubat yang datangnya dari Allah itulah, yang dikatakam sebenar-benar taubat!.
Bilamana taubat itu datangnya dari diri kita, itulah makanya setiap 67 kali bertaubat yang masih melakukan dan mengulangi perkara yang sama itu adalah 167 kali. Iaitu banyak mengulangi dari yang bertaubat.

2) Maqam wara’.
Wara’ itu, adalah meninggalkan perkara yang syubhat. Iaitu meninggal atau menjauhi segala perkara yang belum jelas atau perkara yang belun nyata, samaada dalam hal yang haram atau yang halal.
Didalam Islam wara’ itu, adalah langkah kedua sesudah taubat!, menandakan bahawa Wara’ itu, adalah suatu perkara yang penting bagi menerbit pembenaan mental untuk membersih hati dari ikatan dunia.
Wara’ itu, ada dua tingkat;

1) Pertama: wara’ dari segi zahir.
Erti wara’ dari segi zahir itu, adalah tidak bergerak, kecuali bergeraknya kita itu, adalah hanya untuk beribadah kepada Allah dan hanya untuk taat kepada ketetapan Allah.

2) Kedua adalah wara’ batin atau warak hakiki.

Erti wara’ hakiki itu, adalah bilamana tidak masuk dalam hatinya kercuali Allah Taala.
Wara’ itu adalah meninggalkan perkara-perkara yang berbau syubhat (perkara yang belum jelas) kepada perkara yang sudah jelas, terang, nyata dan diyakini. Orang wara’ itu, adalah orang melakukan perbuatan ibadah dengan benar-benar mengenal Allah Taala. Bukannya ibadah yang sekadar memperlakunkan atau ibadah dibuat-buat sebagai memenuhi tuntutan budaya, tanpa mengenal siapa yang disembah!.

Wara’ itu, adalah orang mengerjakan sesuatu ibadah dengan jelas terlihat, terpandang dan tertilik Allah dalam setiap pekerjaan ibadah yang dilakukan. Tahu dari mana datanngnya ibadah dan tahu pula siapa yang mengerjakan ibadah!. Orang wara’ itu, adalah orang yang tahu bahawa datangnya ibadah itu, adalah dari Allah dan yang mengerjakan ibadah itu, adalahjuga bukan dirinya!.
Ibadah oranng wara’ itu, bukan dari Allah kepada Allah atau dengan Allah. Perkataan dari Allah, kepada Allah dan dengan Allah, semua itu hanyalah perkataan istilah!. Istilah itu, adalah perkataan yang sekadar memberi makna, tidak memberi kenyataan. Untuk mengelak beribadah dengan hanya sekadar beristilah, kita hendaklah membuang perkataan istilah dari Allah, kepada Allah atau beserta dengan Allah.

Beribadahnya orang wara’ itu, adalah beribadah yang bukan datangnya dari perkataan dari Allah, kepada Allah atau beserta Allah, sudah tidak ada istilah perkataan dari, kepada atau besereta Allah, tetapi ibadah mereka-mereka yang benar-benar wara’ itu, adalah ibadah hanya Allah, Allah, Allah………………………………

Tuan-tuan dan puan-puan yang dirahmati Allah sekalian, cuba tuan-tuan dasarkan atau asaskan perbuatan ibadah tuan-tuan, apakah datangnya kerajinan ibadah kita itu, datangnya dari diri sendiri?. Apakah ada kuasa kita untuk mengerjakan ibadah, jika tidak sedia tertulis dan jika tidak sedia terecatat dari semulajadi di dalam kitab luh mahfuz?. Cuba jawab?…………………………….
Ibadah atau amal kita itu, bukan datangnya dari rajin atau usaha kita, tetapi datangnya dari Allah!. Wara’ itu, adalah perkara yang tidak masuk dalam hatinya kecuali Allah, Allah dan Allah……………………………………..

3) Maqam Zuhud

Zuhud itu ertinya, tidak tamak, tidak mengutamakan atau tidak berkeinginan kepada kepada balasan, upah, imbuhan atau ganjaran!.
Dalam maqam zuhud, kita dikehendaki menjauhi dari perkara-perkara syubhat (perkara-perkara yang mendatangkan was-was). Manakala didalam perkara zhud pula, kita diasas atau didasarkan kepada tidak tamak kepada dunia, tidak harap kepada balasan, ganjaran atau inbuhan dari pekerjaan amal ibadah yang kita kerjakan!.
Zuhud itu, selalunya kita sasarkan kepada menjauhi atau tidak berkeinginan kepada perkara-perkara dunia sahaja tetapi menurut sudut pandang ilmu makrifat. Zuhud itu, adalah termasuk kepada perkara-perkara akhirat seperti balasan syurga atau takutkan neraka!.
Zuhud itu, selalunya kita hanya disogok atau diperdengarkan kepada perkara-perkara dunia sahaja. Seumpama menghindari diri dari berkeinginan kepada perkara-perkara keduniaan. Ada yang sampai tidak mahu pakai kereta, ada yang sampai tidak mahu beli sofa (sanggup duduk atas lantai) dan ada yang sanggup berhenti dari bekerja dengan kerajaan, katanya wang gaji dari kerajaan itu, datangnya dari hasil perkara shubhat. Ada yang menjauhi diri atau mengasingkan diri daripada bergaul dengan masyarakat!.

Ada yang mendakwa bahawa hanya dengan cara menjauhi diri dari dunia dan dari masyarakat sahaja yang membolehkan kita berzuhud!. Dengan menolak terus keduniaan. Ada yang sanggup tidak beli talivisian dan membiarkan anak isteri tidak tengok TV. Ada yang sanggup me;lihat rumahnya tidak ada sofa, semata-mata untuk berzuhud.
Zuhud itu, bukan dengan menolak pakai baju ala Melayu dengan memakai baju ala-ala Afghanistan!. Zuhud itu, bukan berdiri didepan orang ramai dengan mengeluarkan kayu sugi!. Uhud itu, bukan dengan memakai jubbah atau sarban. Buykan dengan cara menarik diri untuk tekun beribadah atau menghindarkan diri dari berkeinginan menikmati kelazatan hidup didunia!.
Zuhud Menurut Sudut Pandang Ilmu Makrifat
Zuhud menurut sudut pandang ilmu makrifat itu, bukan sahaja perkara-perkara sebagaimana yang tersebut diatas. Zuhud menurut pandanngan ilmu makrifat itu, adalah “kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput atau dari apa yang terlepas dari kita” dan “ Kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikanNya kepada kita”.
Firman: 57 : 23
Orang zuhud itu, tidak bergembira dengan adanya dunia dan tidak berduka cita dengan adanya akhirat. Pengertian atau tafsiran zuhud itu, tidak sahaja berkisar kepada menghindari kelazatan atau kenikmatan hidup didunia sahaja. Kebanyakkan ulamak hanya selalu mengetegahkan cerita-cerita zuhud yang berat sebelah dan hanya condong kepada tafsiran feqah. Dengan menceritakan seumpama contoh cerita Abu Sulaiman Al- Darani, katanya sufi itu;
“sufi itu, suatu ilmu yang sehingga tidak boleh untuk mengenakan (untuk membeli) kain suf dengan wang ditangan 3 dirham untuk membeli barang yang beharga 5 darham”.
Cerita-cerita seumpama ini, hanya mengisahkan perkara untuk meniunggalkan dunia. Sedangkan siapakah yang menceritakan dengan cerita-cerita tentang untuk tidak melupa dan melalikan Allah?. Siapa yang memandang zuhud dari sudut Allah?, siapakah yang memperjuangkan Allah, melainkan rata-rata yang kita temuai, hanya memperjuangkan zuhud dunia dengan langsung tidak meyentuh zuhud Allah.

Sedangkan menurut sudut pandang atau menurut tafsiran ilmu makrifat, zuhud itu, adalah menghendaki supaya kita menghindari sesuatu selain Allah.
Barang siapa yang ingin tahu lebih lanjut dan lebih mendalam, mari ikut saya kita sama-sama mengharungi, menyeberangi dan menghayati ilmu makrifat Tok kenali. Maksud, erti dan makna sebenar-benar zuhud itu, adalah bilamana sampai kepada tahap “tidak ada lagi yang hendak dizuhud”. Jika masih ada perkara-perkara yang hendak dizuhudkan, tandanya masih ada dunia, bilamana masih ada dunia, ertinya jauh dari Allah, bilamana jauh dari Allah bermakna belum berzuhud.
Jika masih duduk dalam keadaan berzuhud (membuang dunia), bererti dunia masih ada terlekat pada tubuh akalnya!. Selagi berpaut hati pada keberadaan dunia, selagi itu belum berzuhud. Zuhud itu, setelah tidak lagi berpaut hati pada dunia. Inilah yang dikatakan zuhud, mengikut fahamanan ilmu makrifat.

Zuhut itu, hanya bagi mereka-mereka yang belum nyata Allah. Dunia dan diri bagi orang makrifat itu, sudah lama terkubur dan terkaram dalam wajah Allah, yang tidak ada apa lagi hendak dizuhudkan!. Setelah Allah nyata dalam hatinya, sudah tidak ada lagi yang hendak dizuhudkan.
Saya ulangi sekali lagi bahawa, zuhud bagi orang feqah itu, adalah bererti mengasingkan diri dari kehidupan dunia untuk bertekun kepada ibadah dan menjalankan latihan rohani, seumpama menjalankan ibadah puasa, menjaga makan minum, berzikir dan sebagainya, demi memerangi keinginan hawa nafsu.
Adapun zuhud orang makrifat itu, adalah bererti tidak lagi ingat selain Allah.

4) Maqam Faqir
Mengikut tafsiran ilmu feqah, fakir itu adalah miskin. Meskin seumpama tidak punya wang, rumah, tanah tidak punya makanan untuk dimakan dan sebagainya.
Manakala fakir menurut suluhan ilmu makrifat itu, adalah mengosongkan seluruh fikiran dan harapan dari kehidupan masa kini dan kehidupan yang akan datang dan tidak menghendaki serta tidak berkeinginan apapun kecuali Allah!. Fakir yang lenyap sifat kesedaran keberadaan diri sendiri selain Allah.

Fakir menurut suluhan makrifat itu, bukan merujuk kepada fakir miskin yang tidak punya harta atau wang ringgit. Fakir itu, boleh terjadi kepada seorang jutawan, seorang Raja atau seorang yang memiliki bank sendiri. Fakir itu, bukan ukurannya pada wang ringgit!. Fakir yang sebenar-benar fakir itu, adalah orang yang bilamana hatinya tidak kepada yang lain selain Allah. Fakir itu, adalah orang yang tidak membutuh, berkeinginan atau tidak berkehendak kepada sesuatu apapun selain Allah!.
Untuk memahami sifat fakir, mari kita imbas kembali sifat wara’. Wara’ itu, adalah tidak masuk kedalam ingatan hatinya kecuali Allah. Manakala zuhud itu, adalah meninggalkan sifat keakuan, meninggalkan sifat makhluk dan sifat dunia kepada segala-galanya terlihat, ternampak dan tertilik Allah.

Adapun sifat fakir itu, bukanya fakir dari segi kekurangan wang ringgit!. Yang dimaksudkan fakir dari sudut suluhan ilmu makrifat itu, adalah fakir dari terlihta adanya sifat keberadaan diri atau masih ada sifat keakuan!. Tidak punya apa-apa termasuk tidak berkeinginan dan tidak berkehendak selain Allah!.

5) Maqam Sabar
Kita sambung nanti ya.....
ada di dalam KITAB MAKRIFAT TOK KENALI