بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - RAIH MASA DEPANMU BERSAMA STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - TERDEPAN - MODEREN - DAN - ISLAMI, - KALAU ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN SILAKAN DIKIRIMKAN KE KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

RUKUN ISLAM

RUKUN ISLAM : 1. DUAKALIMAH SYAHADAT, 2. SHOLAT, 3. PUASA, 4. ZAKAT, 5. NAIK HAJI

RUKUN IMAN : 1. PERCAYA KEPADA ALLAH, 2. PERCAYA KEPADA MALAIKAT, 3. PERCAYA KEPADA KITAB ALLAH, 4. PERCAYA KEPADA NABI DAN RASUL ALLAH, 5. PERCAYA KEPADA HARI AKHIRAT, 6. PERCAYA KEPADA QODHA & QHADAR ALLAH

PILIH MENU

Minggu, 13 Juli 2014

Bacaan Zikir Dan Do'a Sesudah Salat + Terjemahan

Bacaan Zikir Dan Do'a Sesudah Salat dan Terjemahan

Assalamualaikum Wa.Wb... Apa kabar teman chayoy? akhirnya admin bisa juga ngenet setelah sekian lama mencari cara untuk mengakali sinyal operator yang napasnya hampir satu-satu. Alhamdulillah Akhirnya bisa ngenet dengan bantuan hp admin yang sederhana ini untuk bisa di jadikan modem, setelah sebelumnya modem admin rusak berat dan gak bisa diperbaiki lagi...#huft selamat jalan modem. Dibulan yang penuh berkah ini admin ingin berbagi sesuatu yang insyaallah bermamfaat dunia dan akhirat. Meskipun sudah banyak papan sebelah yang berbagi tentang ini, tapi setidaknya admin untuk menghiasi blog yang sederhana ini supaya lebih bermakna lagi dimata teman dunia chayoy semuanya. Admin juga dalam masa belajar sebenarnya meski aslinya sudah hapal tapi karena gak diulang-ulang jadi lupa, makanya admin kembali mengingat apa yang sudah admin dapat sebelumnya dan semoga teman chayoy bisa memamfaat artikel ini dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi berkah yang berlipat ganda di bulan suci ramadhan ini,amin...!!!
Tanpa panjang lebar berikut Bacaan Zikir Dan Do'a Sesudah Salat + Terjemahan. 
Bacaan Dzikir Sesudah Shalat
  1. Astagfirullaahal ‘azhiim, alladzi laa ilaaha ilaa huwal hayyul qayyuum, wa atuubu ilaihi.3x
    Artinya : “Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Besar, tiada Tuhan melainkan Dia, yang senantiasa hidup lagi mengurus segala sesuatu dengan sendiri-Nya, dan saya bertobat kepada-Nya."
  2. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa alaa kulli syai'in qadiir.
    Artinya : “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji-pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”
  3. Allaahumma antas-salaamu wa minkas-salaamu wa ilaika ya’uduus-salaamu fa hayyinaa rabbanaa bis-salaami wa adkhinal- jannata daaras-salaami tabaarakta rabbanaa wa ta'aalaita yaa dzal- jalaali wal –ikram.
    Artinya : “Ya Allah Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan dan daripada- Mulah kesejahteraan itu dan kepada- Mulah akan kembali lagi segala kesejahteraan itu. Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Dan masukkanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang kuasa memberiberkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
  4. Baca Surat Al Fatihah.
  5. Wa ilaahukum ilaahuw waahidun laa ilaaha ilaa huwar-rahmaanur- rahiim.
    Artinya : “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
  6. Baca Ayat Kursi
  7. Allaahumma laa maani'a limaa a’thaita wa laa mu'thiya limaa mana'ta wa laa radda limaa qadhaita wa laa yanfa'u dzal-jaddi minkal-jaddu.
    Artinya : “Ya Allah, tidak ada yang menghalangi segala apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang dapat memberikan segala yang Engkau larang. Dan tidak ada yang menolak segala apa yang Engkau putuskan. Dan tidak bermanfaat kepada orang yang kaya di sisi Engkau segala kekayaannya.”
  8. Ilaahii yaa rabbii.
    Artinya : “Ya Tuhan kami.”
  9. Subhaanallaahi 33x.
    Artinya : “Maha Suci Allah."33x .
  10. Al-hamdu lillaaahi 33x.
    Artinya :“Segala puji bagi Allah.33x.
  11. Allaaahu akbar 33x.
    Artinya : “Allah Maha Besar.”33x
  12. Allaahu akbar kabiiraw wal-hamdu lillaahi katsiiraw wa subhaanallahi bukrataw wa ashiila. Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa'alaa kulli syai'in qadiir.
    Artinya : “Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah dengan puji yang banyak. Maha Suci Allah sepanjang pagi dan petang. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang mempunyai kekuasaan dan kerajaan yang memerintahkan, bagi-Nya segala puji- pujian yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu.”
  13. Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil-‘aliyyil ‘azhiim. Astagfirullaahal-‘azhiim.
    Artinya : “Dan tidak ada daya upaya dan kekuataan melainkan dengan pertolongan Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”

  1. A'uudzu billaahi minasy- syaithaanir-rajiim. Bismillaahirrahmaanir-rahim. Al- hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin, hamday yuwaafii ni'amahu wa yukaafii maziidah.
    Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan memadai dengan penambahan- Nya.”
  2. Yaa rabbanaa lakal-hamdu kamaa yambagii li jalaali wajhika wa'azhiimi sulthaanik.
    Artinya : “Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana pujian itu patut terhadap kemuliaan-Mu dan keagungan- Mu.”
  3. Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadiw wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammadin.
    Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada junjungan kita Nabi Muhammad berserta keluarganya.”
  4. Allaahumma rabbanaa taqabbal- minnaa shalaatanaa wa shiyaamana wa rukuu'anaa wa sujuudanaa wa qu'uudanaa wa tadharru'anaa wa takhasysyu'anaa wa ta'abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa Allaah yaa rabbal-'aalamiin.
    Artinya : “Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami,duduk rebah kami, khusyuk kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama shalat ya Allah, Tuhan seru sekalian alam.”
  5. Allaahumma a'innaa 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatik.
    Artinya : “Ya Allah, ya Tuhan kami, tolonglah kami untuk selalu mengingat-Mu dan mensyukuri rahmat dan nikmat-Mu, dan perbaikilah amal ibadah kepada-Mu.”
  6. Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin.
    Artinya : “Ya Allah! Kami telah aniaya terhadap diri kami sendiri karena itu ya Allah jika tidak dengan limpahan ampunan dan rahmat-Mu niscaya kami akan jadi orang yang sesat.”
  7. Rabbanaa laa tu'aakhidznaa in nasiinaa au akhtha'naa.
    Artinya : “Ya Allah, ya Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau kami bersalah.”
  8. Rabbanaa wa laa tahmil-'alainaa ishran kamaa hamaltahuu 'alal- ladziina min qablinaa.
    Artinya : “Ya Allah Tuhan kami! Janganlah Engkau pikul atas diri kami beban yang berat sebagaimana yang pernah Engkau bebankan kepada orang yang terdahulu dari kami.”
  9. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii wa'fu 'annaa wagfir lanaa warhamnaa anta maulana fanshurnaa 'alal qaumil-kaafiriin.
    Artinya : “Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan atas diri kami apa yang diluar kesanggupan kami. Ampunilah dan limpahkanlah rahmat ampunan terhadap diri kami ya Allah. Ya Allah Tuhan kami, berilah kami pertolongan untuk melawan orang yang tidak suka kepada agama-Mu.
  10. Allaahumma innaa nas'aluka salaamatan fid-diin, wa 'aafiyatan fil jasadi, wa ziyaadatan fil-'ilmi, wa barakatan fir-rizqi, wa taubatan qablal-mauut, wa rahmatan 'indal- mauut, wa magfiratam ba'dal- mauut, Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil-mauut, wan- najaata minan-naar, wal 'afwa 'indal-hisaab.
    Artinya : “Ya Allah, ya Tuhan kami, kami mohon keselamatan agama, kesehatan jasmani, bertambahnya ilmu, dan berkah rezeki, dapat bertaubat sebelum mati, mendapatkan rahmat ketika mati dan memperoleh ampunan setelah mati. Ya Allah, ya Tuhan kami, mudahkanlah kami pada gelombang sakaratul maut,, serta memperoleh keampunan ketika dihisab.”
  11. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan innaka antal- wahhab.
    Artinya : “Ya Allah Tuhan kami , janganlah Engkau sesatkan kami sesudah mendapat petunjuk, berilah kami karunia. Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
  12. Rabbanaghfir lanaa wa li waalidiinaa wa li jamii'il- muslimiina wal-muslimaati wal- mu'miniina wal mu'minaati al- ahyaa'i minhum wal-amwaat, innakaa'alaa kulli syai'in qadiir.
    Artinya : “Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa-dosa orang tua kami, dan bagi semua orang Islam laki- laki dan perempuan, orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan yang masih hidup dan yang sudah mati. Sesungguhnya Engkau Zat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya."
  13. Rabbana hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa wa qurrata a'yuniw waj'alnaa lil-muttaqiina imaamaa.
    Artinya : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri/suami/keluarga dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikan kami pemimpin bagi orang- orang yang bertaqwa.”
  14. Rabbanaa aatinaa fid-dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban- naar. Allaahummagfir lanaa dzunuubanaa wa kaffir 'annaa sayyi'aatinaa wa tawaffana ma'al-abraar.
    Artinya : “Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kesejahteraan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksaan api neraka. Ya Allah ampunilah dosa kami dan tutupilah segala kesalahan kami, dan semoga jika kami mati nanti bersama- sama dengan orang-orang yang baik.”
  15. Rabbij'alnii muqiimash –shalaati wa min dzurriyatii rabbanaa wa taqabbal du'aa’.
    Artinya : “Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku, orang-orang yang mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah do'a kami.”
  16. Wa adkhilnal-jannata ma'al- abraar, yaa 'aziizu yaa gaffaru yaa rabbbal-'aalamin.
    Artinya : “Masukkanlah kami ke dalam surga bersama-sama orang-orang yang berbuat baik. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”
  17. Subhaana rabbika rabbil-'izzati 'amma yashifuun, wa salaamun 'alal-mursaliina wal-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin.
    Artinya : “Maha Suci Engkau, Tuhan segala kemuliaan. Suci dari segala apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Semoga kesejahteraan atas para rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”
Sekian yang bisa admin bagikan pada kesempatan kali ini, kalau ada kata-kata atau tulisan yang di sesuai mohon dimaafkan karena admin juga masih dalam tahap pembelajaran. Makasi atas perhatiannya sampai jumpa di postingan selanjutnya.
Assalamualaikum Wa.Wb
sumber
http://www.chayoy.com

DZIKIR DAN SHALAWAT


(Astagfirullah Al Adzim) – Bacaan Istigfar
(Allahuma Sholi Ala Syaidina Muhammad…..) – Bacaan Shalawat
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
(Lailaha illallah) – Bacaan Tahlil
سُبْحَانَ اللهُ
(Subhanallah) – Bacaan Tasbih
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
(Alhamdulillah) – Bacaan Tahmid

Bacaan Ayat
1. Surat al-Ikhlas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
qul huwa allaahu ahadun
[112:1] Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
اللَّهُ الصَّمَدُ
allaahu alshshamadu
[112:2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
lam yalid walam yuuladu
[112:3] Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
walam yakun lahu kufuwan ahadun
[112:4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
2. Surat al-Falaq

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
qul a’uudzu birabbi alfalaqi
[113:1] Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
min syarri maa khalaqa
[113:2] dari kejahatan makhluk-Nya,
وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
wamin syarri ghaasiqin idzaa waqaba
[113:3] dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ
wamin syarri alnnaffaatsaati fii al’uqadi
[113:4] dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
wamin syarri haasidin idzaa hasada
[113:5] dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
3. Surat an-Nas

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
qul a’uudzu birabbi alnnaasi
[114:1] Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
مَلِكِ النَّاسِ
maliki alnnaasi
[114:2] Raja manusia.
إِلَهِ النَّاسِ
ilaahi alnnaasi
[114:3] Sembahan manusia.
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
min syarri alwaswaasi alkhannaasi
[114:4] Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
alladzii yuwaswisu fii shuduuri alnnaasi
[114:5] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
mina aljinnati waalnnaasi
[114:6] dari jin dan manusia.
4. Surat al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الم
alif-laam-miim
[2:1] Alif laam miin.
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
dzaalika alkitaabu laa rayba fiihi hudan lilmuttaqiina
[2:2] Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
alladziina yu/minuuna bialghaybi wayuqiimuuna alshshalaata wamimmaa razaqnaahum yunfiquuna
[2:3] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
waalladziina yu/minuuna bimaa unzila ilayka wamaa unzila min qablika wabial-aakhirati hum yuuqinuuna
[2:4] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
ulaa-ika ‘alaa hudan min rabbihim waulaa-ika humu almuflihuuna
[2:5] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
5. Surat al-Baqarah ayat 163

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
wa-ilaahukum ilaahun waahidun laa ilaaha illaa huwa alrrahmaanu alrrahiimu
[2:163] Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
6. Surat al-Baqarah ayat 255

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
allaahu laa ilaaha illaa huwa alhayyu alqayyuumu laa ta/khudzuhu sinatun walaa nawmun lahu maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi man dzaa alladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi-idznihi ya’lamu maa bayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyay-in min ‘ilmihi illaa bimaa syaa-a wasi’a kursiyyuhu alssamaawaati waal-ardha walaa yauuduhu hifzhuhumaa wahuwa al’aliyyu al’azhiimu
[2:255] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
7. Surat al-Baqarah ayat dari ayat 284 samai ayat 286

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wa-in tubduu maa fii anfusikum aw tukhfuuhu yuhaasibkum bihi allaahu fayaghfiru liman yasyaau wayu’adzdzibu man yasyaau waallaahu ‘alaa kulli syay-in qadiirun
[2:284] Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
aamana alrrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihi waalmu/minuuna kullun aamana biallaahi wamalaa-ikatihi wakutubihi warusulihi laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi waqaaluu sami’naa wa-atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa-ilayka almashiiru
[2:285] Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta’at.” (Mereka berdo’a): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ .
laa yukallifu allaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alayhaa maa iktasabat rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha/naa rabbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishran kamaa hamaltahu ‘alaa alladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wau’fu ‘annaa waighfir lanaa wairhamnaa anta mawlaanaa faunshurnaa ‘alaa alqawmi alkaafiriina
[2:286] Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
8. Surat al-Ahzab ayat 33

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
waqarna fii buyuutikunna walaa tabarrajna tabarruja aljaahiliyyati al-uulaa wa-aqimna alshshalaata waaatiina alzzakaata wa-athi’na allaaha warasuulahu innamaa yuriidu allaahu liyudzhiba ‘ankumu alrrijsa ahla albayti wayuthahhirakum tathhiiraan
[33:33] dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
9. Surat al-Ahzab ayat 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
inna allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna ‘alaa alnnabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu ‘alayhi wasallimuu tasliimaan
[33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

10. Ayat Kursi

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
allaahu laa ilaaha illaa huwa alhayyu alqayyuumu laa ta/khudzuhu sinatun walaa nawmun lahu maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi man dzaa alladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi-idznihi ya’lamu maa bayna aydiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyay-in min ‘ilmihi illaa bimaa syaa-a wasi’a kursiyyuhu alssamaawaati waal-ardha walaa yauuduhu hifzhuhumaa wahuwa al’aliyyu al’azhiimu
[2:255] Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
11. Surat Yasin

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يس
yaa-siin
[36:1] Yaa siin
وَالْقُرْءَانِ الْحَكِيمِ
waalqur-aani alhakiimi
[36:2] Demi Al Quraan yang penuh hikmah,
إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
innaka lamina almursaliina
[36:3] Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
‘alaa shiraathin mustaqiimin
[36:4] (yang berada) diatas jalan yang lurus,
تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
tanziila al’aziizi alrrahiimi
[36:5] (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ ءَابَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
litundzira qawman maa undzira aabaauhum fahum ghaafiluuna
[36:6] Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
laqad haqqa alqawlu ‘alaa aktsarihim fahum laa yu/minuuna
[36:7] Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.
إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ
innaa ja’alnaa fii a’naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna
[36:8] Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
waja’alnaa min bayni aydiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyaynaahum fahum laa yubshiruuna
[36:9] Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
wasawaaun ‘alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu/minuuna
[36:10] Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
innamaa tundziru mani ittaba’a aldzdzikra wakhasyiya alrrahmaana bialghaybi fabasysyirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin
[36:11] Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَءَاثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
innaa nahnu nuhyii almawtaa wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syay-in ahsaynaahu fii imaamin mubiinin
[36:12] Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ
waidhrib lahum matsalan ash-haaba alqaryati idz jaa-ahaa almursaluuna
[36:13] Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ
idz arsalnaa ilayhimu itsnayni fakadzdzabuuhumaa fa’azzaznaa bitsaalitsin faqaaluu innaa ilaykum mursaluuna
[36:14] (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu”.
قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
qaaluu maa antum illaa basyarun mitslunaa wamaa anzala alrrahmaanu min syay-in in antum illaa takdzibuuna
[36:15] Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”.
قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ
qaaluu rabbunaa ya’lamu innaa ilaykum lamursaluuna
[36:16] Mereka berkata: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu”.
وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
wamaa ‘alaynaa illaa albalaaghu almubiinu
[36:17] Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
qaaluu innaa tathayyarnaa bikum la-in lam tantahuu lanarjumannakum walayamassannakum minnaa ‘adzaabun aliimun
[36:18] Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.
قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
qaaluu thaa-irukum ma’akum a-in dzukkirtum bal antum qawmun musrifuuna
[36:19] Utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas”.
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
wajaa-a min aqshaa almadiinati rajulun yas’aa qaala yaa qawmi ittabi’uu almursaliina
[36:20] Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”.
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
ittabi’uu man laa yas-alukum ajran wahum muhtaduuna
[36:21] Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
wamaa liya laa a’budu alladzii fatharanii wa-ilayhi turja’uuna
[36:22] Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?
ءَأَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِ ءَالِهَةً إِنْ يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ
a-attakhidzu min duunihi aalihatan in yuridni alrrahmaanu bidhurrin laa tughni ‘annii syafaa’atuhum syay-an walaa yunqidzuuni
[36:23] Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku?
إِنِّي إِذًا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
innii idzan lafii dhalaalin mubiinin
[36:24] Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
إِنِّي ءَامَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ
innii aamantu birabbikum faisma’uuni
[36:25] Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَالَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ
qiila udkhuli aljannata qaala yaa layta qawmii ya’lamuuna
[36:26] Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke syurga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.
بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ
bimaa ghafara lii rabbii waja’alanii mina almukramiina
[36:27] Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِهِ مِنْ جُنْدٍ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِينَ
wamaa anzalnaa ‘alaa qawmihi min ba’dihi min jundin mina alssamaa-i wamaa kunnaa munziliina
[36:28] Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.
إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ
in kaanat illaa shayhatan waahidatan fa-idzaa hum khaamiduuna
[36:29] Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.
يَاحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
yaa hasratan ‘alaa al’ibaadi maa ya/tiihim min rasuulin illaa kaanuu bihi yastahzi-uuna
[36:30] Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang rasulpun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ
alam yaraw kam ahlaknaa qablahum mina alquruuni annahum ilayhim laa yarji’uuna
[36:31] Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka.
وَإِنْ كُلٌّ لَمَّا جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
wa-in kullun lammaa jamii’un ladaynaa muhdaruuna
[36:32] Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami.
وَءَايَةٌ لَهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ
waaayatun lahumu al-ardhu almaytatu ahyaynaahaa wa-akhrajnaa minhaa habban faminhu ya/kuluuna
[36:33] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.
وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ
waja’alnaa fiihaa jannaatin min nakhiilin wa-a’naabin wafajjarnaa fiihaa mina al’uyuuni
[36:34] Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air,
لِيَأْكُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ
liya/kuluu min tsamarihi wamaa ‘amilat-hu aydiihim afalaa yasykuruuna
[36:35] supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
subhaana alladzii khalaqa al-azwaaja kullahaa mimmaa tunbitu al-ardhu wamin anfusihim wamimmaa laa ya’lamuuna
[36:36] Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
وَءَايَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ
waaayatun lahumu allaylu naslakhu minhu alnnahaara fa-idzaa hum muzhlimuuna
[36:37] Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
waalsysyamsu tajrii limustaqarrin lahaa dzaalika taqdiiru al’aziizi al’aliimi
[36:38] dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
waalqamara qaddarnaahu manaazila hattaa ‘aada kaal’urjuuni alqadiimi
[36:39] Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
laa alsysyamsu yanbaghii lahaa an tudrika alqamara walaa allaylu saabiqu alnnahaari wakullun fii falakin yasbahuuna
[36:40] Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
وَءَايَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
waaayatun lahum annaa hamalnaa dzurriyyatahum fii alfulki almasyhuuni
[36:41] Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.
وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ
wakhalaqnaa lahum min mitslihi maa yarkabuuna
[36:42] dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu.
وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ
wa-in nasya/ nughriqhum falaa shariikha lahum walaa hum yunqadzuuna
[36:43] Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
illaa rahmatan minnaa wamataa’an ilaa hiinin
[36:44] Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
wa-idzaa qiila lahumu ittaquu maa bayna aydiikum wamaa khalfakum la’allakum turhamuuna
[36:45] Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).
وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ ءَايَةٍ مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
wamaa ta/tiihim min aayatin min aayaati rabbihim illaa kaanuu ‘anhaa mu’ridhiina
[36:46] Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
wa-idzaa qiila lahum anfiquu mimmaa razaqakumu allaahu qaala alladziina kafaruu lilladziina aamanuu anuth’imu man law yasyaau allaahu ath’amahu in antum illaa fii dhalaalin mubiinin
[36:47] Dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”.
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
wayaquuluuna mataa haadzaa alwa’du in kuntum shaadiqiina
[36:48] Dan mereka berkata: “Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?”.
مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ
maa yanzhuruuna illaa shayhatan waahidatan ta/khudzuhum wahum yakhishshimuuna
[36:49] Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
falaa yastathii’uuna tawshiyatan walaa ilaa ahlihim yarji’uuna
[36:50] lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
wanufikha fii alshshuuri fa-idzaa hum mina al-ajdaatsi ilaa rabbihim yansiluuna
[36:51] Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
قَالُوا يَاوَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
qaaluu yaa waylanaa man ba’atsanaa min marqadinaa haadzaa maa wa’ada alrrahmaanu washadaqa almursaluuna
[36:52] Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya).
إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
in kaanat illaa shayhatan waahidatan fa-idzaa hum jamii’un ladaynaa muhdaruuna
[36:53] Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.
فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
faalyawma laa tuzhlamu nafsun syay-an walaa tujzawna illaa maa kuntum ta’maluuna
[36:54] Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ
inna ash-haaba aljannati alyawma fii syughulin faakihuuna
[36:55] Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).
هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ
hum wa-azwaajuhum fii zhilaalin ‘alaa al-araa-iki muttaki-uuna
[36:56] Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ
lahum fiihaa faakihatun walahum maa yadda’uuna
[36:57] Di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta.
سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ
salaamun qawlan min rabbin rahiimin
[36:58] (Kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.
وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ
waimtaazuu alyawma ayyuhaa almujrimuuna
[36:59] Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mu’min) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat.
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
alam a’had ilaykum yaa banii aadama an laa ta’buduu alsysyaythaana innahu lakum ‘aduwwun mubiinun
[36:60] Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,
وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
wa-ani u’buduunii haadzaa shiraathun mustaqiimun
[36:61] dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.
وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ
walaqad adhalla minkum jibillan katsiiran afalam takuunuu ta’qiluuna
[36:62] Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan ?.
هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
haadzihi jahannamu allatii kuntum tuu’aduuna
[36:63] Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).
اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
ishlawhaa alyawma bimaa kuntum takfuruuna
[36:64] Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
alyawma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aydiihim watasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuuna
[36:65] Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ
walaw nasyaau lathamasnaa ‘alaa a’yunihim faistabaquu alshshiraatha fa-annaa yubshiruuna
[36:66] Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya).
وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ
walaw nasyaau lamasakhnaahum ‘alaa makaanatihim famaa istathaa’uu mudhiyyan walaa yarji’uuna
[36:67] Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.
وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
waman nu’ammirhu nunakkis-hu fii alkhalqi afalaa ya’qiluuna
[36:68] Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْءَانٌ مُبِينٌ
wamaa ‘allamnaahu alsysyi’ra wamaa yanbaghii lahu in huwa illaa dzikrun waqur-aanun mubiinun
[36:69] Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quraan itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
liyundzira man kaana hayyan wayahiqqa alqawlu ‘alaa alkaafiriina
[36:70] supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ
awa lam yaraw annaa khalaqnaa lahum mimmaa ‘amilat aydiinaa an’aaman fahum lahaa maalikuuna
[36:71] Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?
وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ
wadzallalnaahaa lahum faminhaa rakuubuhum waminhaa ya/kuluuna
[36:72] Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.
وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ
walahum fiihaa manaafi’u wamasyaaribu afalaa yasykuruuna
[36:73] Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ ءَالِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ
waittakhadzuu min duuni allaahi aalihatan la’allahum yunsharuuna
[36:74] Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ
laa yastathii’uuna nashrahum wahum lahum jundun muhdaruuna
[36:75] Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ
falaa yahzunka qawluhum innaa na’lamu maa yusirruuna wamaa yu’linuuna
[36:76] Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
أَوَلَمْ يَرَ الْإِنْسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِنْ نُطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُبِينٌ
awa lam yaraa al-insaanu annaa khalaqnaahu min nuthfatin fa-idzaa huwa khashiimun mubiinun
[36:77] Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
wadharaba lanaa matsalan wanasiya khalqahu qaala man yuhyii al’izhaama wahiya ramiimun
[36:78] Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?”
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
qul yuhyiihaa alladzii ansya-ahaa awwala marratin wahuwa bikulli khalqin ‘aliimun
[36:79] Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.
الَّذِي جَعَلَ لَكُمْ مِنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنْتُمْ مِنْهُ تُوقِدُونَ
alladzii ja’ala lakum mina alsysyajari al-akhdhari naaran fa-idzaa antum minhu tuuqiduuna
[36:80] yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”.
أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ
awa laysa alladzii khalaqa alssamaawaati waal-ardha biqaadirin ‘alaa an yakhluqa mitslahum balaa wahuwa alkhallaaqu al’aliimu
[36:81] Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
innamaa amruhu idzaa araada syay-an an yaquula lahu kun fayakuunu
[36:82] Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
fasubhaana alladzii biyadihi malakuutu kulli syay-in wa-ilayhi turja’uuna
[36:83] Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.
12. Ditutup Dengan Doa

Zikir , Tahlilan, dan Do'a

  Zikir , Tahlilan, dan Do'a
 
Umat islam diperintahkan oleh Allah dan rasulnya untuk berzikir sebanyak-banyaknya baik pagi dan petang,dalam keadaan luang atau sempit, dan dalam keadaan sendirian atau berjama’ah. Orang yang tidak mau berzikir adalah orang yang sesat pengecut hawa nafsu dan tak pantas untuk diikuti. Banyak dalil dalam al-qur’an dan hadist yang menganjurkan ummat islam seluruhnya tanpa pandang bulu_pandang usia_pandang kedudukan untuk berzikir berzikir kepada tuhannya.
Dalil Pertama
Allah berfirman dalam QS:Al-Ahzab 41- 42

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا 
hai, sekalian orang mu’min, ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah memuji Allah pagi dan petang”
Dalil Kedua
QS:An-Nisa 103

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (١٠٣)
apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka ingatlah Allah diwaktu berdiri dan diwaktu berbaring”
Ayat diatas menyatakan bahwa zikir itu harus dilakukan  sesudah selesai sembahyang pada ketika berdiri, duduk dan berbaring.
Ayat ini menyatakan dengan jelas salahnya fatwa sebahagian muballigh dengan memfatwakan bahwa arti zikir dalam ayat-ayat zikir itu adalah adalah sembahyang, karena pada ayat ini jelas dinyatakan “kalau kamu telah selesai mengerjakan sembahyang”
Juga batal fatwa yang mengatakan bahwa maksud zikir dalam ayat-ayat zikir ialah bertabligh,mengaji,berdiskusi,dan lain-lain serupa, karena dalam ayat ini jelas dinyatakan bahwa zikir harus juga dilakukan pada waktu berbaring.
Adakah orang yang berpidato atau ceramah sambil berbaring ? tidak kan
Dalil Ketiga
QS:Ar-Ra’d :28


الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ    
Orang Mukmin akan tenteram hatinya ketika mengingat Allah, Ingatlah Allah, karena dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram
Dalil Keempat
QS : Taha – 124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)    
“Barang siapa yang tidak mau mengingat aku dia akan mendapatkan kehidupan yang sulit dan diakhirat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang buta”
Nah ayat ini mengecam orang yang tidak mau berzikir kepada tuhan maka dia akan diber kehidupan yang “dhanka” (Gelisah) dan diakhirat sebagai orang yang buta


Jelas sekali disebutkan Bahwa orang yang tidak mau berzikir Hidupnya akan "Dhanka" artinya:
1. Hidupnya tidak bisa tenang dan kesulitan akan menimpa dirinya 
2. Rezki disempitkan
3. diakhirat dibangkitkan dalam keadaan buta

Dalil Kelima
QS: Al-Ahzab - ayat 35

وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

"Dan bagi peria dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah disediakan ampunan dan pahala yang besar oleh Allah"

Dalil keenam
QS:Al-Baqarah : 152


فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ (١٥٢)
     
"maka ingatlah kepadaku supaya aku ingat pula kepadamudan bersyukurlah kamu dan janganlah kamu menjadi orang kafir"
Nah jelaslah ayat diatas menunjukkan zikir kepada Allah memasukkan kita kedalam golongan orang yang bersyukur atau berterima kasih kepada Allah.


Dalil ketujuh
Rasulullah bersabda :

عن جا بر ابن عبد الله رضى الله عنه  : سمعت رسوالله صلى الله علىه وسلم ىقول : افضل الذ كر لا اله الله ه
dari jabir bin abdullah berkata: saya mendengar Rasulullah Bersabda: zikir yang baik adalah kalimat "Lailahaillallah"(HR.Imam Tirmdzi juzu'XIII halaman 274.
nah, maka baik sekali dan dianjurkan oleh agama agar setiap orang islam mempebanyak dzikir khususnya Lailahaillallah
baik adalah kalimat "Lailahaillallah"(HR.Imam Tirmdzi juzu'XIII halaman 274.
dalam hadis ini dapat diambil maksuddnya
1. Dzikir itu " membaca" Kalimat
2. kalimat dzikir yang paling baik adalah Lailahaillallah
nah, maka baik sekali dan dianjurkan oleh agama agar setiap orang islam mempebanyak dzikir khususnya Lailahaillallah
Dalil Kedelapan

لا تقوم السا عة حتى لا يبقى على وجه الارض من ىقول : الله الله 
"tiada akan datang hari kiamat kecuali kalau tidak ada lagi yang membaca Allah, Allah "(hadist Riwayat Imam Muslim, Lihat Sahih muslim 1 Hal 73 Tanwirul Qidub Pagina 511)
Nyata dalam hadist ini membaca zikir kepada Allah, adalah ibadah yang sangat penting, sehingga kiamat tidak akan datang selama masih ada orang yang membaca Allah Allah. nampak juga dalam hadis ini bahwa zikir bukan bartpidato atau bartabligh, tetapi membaca Allah,Allah

Dalil kesembilan

ماجلس قوم مجلسا يذكورونالله عزوجل فيه فيقومون حتى يقوللهم :  قوموا قد غفرالله لكم وبدلت سيئا تكم حسنات : روه طبرني عن سهل بن ااحنظلية رضالله عنهز

Artinya "tidaklah duduk suatu kaum pada suatu majelis, dimana mereka berzikir kepada Allah 'Azza Wajalla di tempat itu, lalu setelah selesai mereka berdiri, melainkan dikatakan oleh (malaikat) kepada mereka : berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa  kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan dengan berbagai kebaikan (H.R.imam Thabrani Sahl bin Hanzhaliyyah r.a)
dengan hadist diatas dapat dipahami dosa-dosa dan perbuatan buruk orang yang berzikir dimajelis zikir, diampuni oleh Allah dan diganti dengan berbagai kebaikan. maksudnya, nafs (jiwa) mereka akan bersih. pikiran-pikiran mereka yang kotor dan amal-amaliah mereka yang negatif menjadi amaliah yang positif. Ringkasnya mereka akan memperoleh pencerahan jiwa setiap kali mereka selesai berzikir di majelis zikir.


Dalil Kesepuluh


لايقعدو قوم يذكرونالله عزوجل الا خفتم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم      السكينة وذكرهم الله فيمن عنده  
    روه مسلم والترمذي وابن ما جه عن ابى هريرة رضيالله عنه 

Artinya :" tidaklah duduk suatu kaum (menyebut) nama Allah A'zza wajalla melainkan dinaungilah mereka oleh para malaikat , dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberikan ketenangan kepada mereka, juga Allah menyebut-nyebut nama mereka dihadapan  malaikat yang ada disisinya (H.R. Imam Muslim, imam tirmdzi, dan Imam Ibnu Majahdari abu hurairah r.a).
Dalam Hadis yang tidak diragukan lagi kesahihannya ini, jelaslah dzikir secara berjamaah ini sangat baik dan sangat banyak faidahny, yakni mereka oleh para malaikat, dipenuhi rahmat Allah diberikan ketenangan batin dan nama-nama  mereka disebut-sebut oleh Allah dihadapan para malaikat


 Dalil Kesebelas

يقو ل الله عز وجل يوم القيمة   : سيعلم اهل الجمع من اهل الكرم فقيل ومن اهل الكرم يرسولالله ,  قا اهل الذكر  . روه احمد و ابن حبان  


artinya : "AllahAzza Wajalla akan berfirman pada hari kiamat, "semua golongan akan tahu siapakah yang paling mulia", Rasullullah Saw ditanya : "Siapakah golongan yang paling mulia itu, ya Rasulullah, Beliau menjawa."Golongan Majeli-Majelis zikir" . (H.R.Imam ahmad dan imam Ibnu hibban).


Dalil Dua Belas
Pujian dan doa Rasulullah Kepada sahabatnya yang bernama,"Abdullah bin Rawahah" Karena ia mencintai Majelis Zikir. Rasulullah bersabda:
يرحم الله ابن روحة انه يحب المجا لس التى تتبا ها بها الملئكة  : روه احمد 
artinya : "Semoga Allah menyayangi ibu Rawahah, karena ia mencintai majelis zikir, yang mana para malaikat bermegah-megahan dengan dengan majelis zikir itu (H.R. Imam Ahmad)
     Dalam hadist ini dijelaskan barang siapa yang mencintai majelis zikir dan dengan rajin menghadirinya, ia akan disayang oleh Allah SWT yang bersifat Rahman dan Rahim

Dalil ketiga Belas

يا رسوالله ما غنيمة مجا لس الذكر  , قال غنيمة مجالس الذكر الجنة : روه احمد با سند حسن

Artinya:"Ya, Rasulullah, Apakah ganjaran (balasan) dari majelis zikir ?"Beliaupun menjawab, "Ganjaran (balasan) majelis zikir adalah syurga." (H.R. imam ahmad dengan sanad hasan)

Pendeknya kaum Ahlussunnah waljamaah seluruhnya berpendapat bahwa zikir dan Do'a,  adalah ibadah yang sangat tinggi harganya dihadapan Allah Swt. oleh sebab itulah penduduk muslim indonesia yang berfaham Ahlussunnah waljamaah sangat rajin berzikir dan berdoa pada tiap-tiap sudah sembahyang baik sendiri atau berjamaah.
Akan tetapi masih ada banyak orang yang merendahkan dzikir dengan fatwa ocehan-ocehan dengan mengatakan,Seperti:
1. membaca zikir adalah amalan orang kuno yang tidak ada dasarnya dari qur'an dan hadis dan tidak dikerjakan pada zaman nabi.
     arti zikir katanya :" mengingat kebesaran tuhan cuma dalam hati, mengaji dan bertabligh, bukan duduk bersama membaca kalimat Lailahaillallah.
2. ah. zikir-zikir saja, apakah zikir bisa membuat perut jadi kenyang.
3. ah, do'a ke do'a saja apakah bumi bisa bergeser dengan do'a
4. ah do'a ke do'a saja orang sudah sampai kebulan kita masih saja berdo'a
dan .lain-lain ocehan
      Lihat sekarang orang kalau sudah selesai mengerjakan sembahyang jum'at, orang serempak pada berdiri, buru-buru keluar tanpa zikir dan do'a
            sesudah sembahyang lima waktu orang tidak zikir dan berdaa lagi
            orang-orang tidak lagi berdzikir dan berdoa dirumah karena dianggap amalan amalan orang kuno 
            di kubur orang sudah tidak baca tahlilan lagi diganti dengan pidato-pidato katanya kalau tahlilan di kubur bid,ah sesat, dan tidak sampai pahalanya ke orang mati.

Demikian dalil yang saya kemukakan tentang zikir yang membuktikan bahwa zikir adalah amal shaleh yang sangat tinggi nilainya dihadapan Allah swt.

Dan saya akan melanjutkan pembahasan tentang zikir berjamaah, yang akan membuktikan bahwa zikir berjamaah adalah bukan hal yang sesat dan pelakunya masuk neraka.
  
Jama'ah dzikir merupakan sekelompok orang yang melakukan berbagai amal ketaatan yang masuk pada kategori dzikir, tanpa harus dipahami bahwa mereka melakukan itu dengan cara bersama-sama, satu suara dan serempak.
Ini adalah masalah tata bahasa. "Jamaah" dalam hal ini adalah kata benda, sedangkan "berjamaah" adalah kata keterangan. Sebagaimana kalimat berikut,
Orang-orang melakukan sholat maghrib berjamaah. Jamaah sholat maghrib itu bertakbir bersama-sama.
Di sini, "jamaah sholat maghrib" adalah subyek kalimat, dan "sholat maghrib berjamaah" adalah obyek. Bedakah orang-orang yang melakukan sholat maghrib itu? Tidak. Maksudnya sama, orang-orangnya sama. Perbedaan hanya pada posisi / letak kata. Yang satu ..jamaah sholat maghrib .. sebagai kata benda (subyek dalam kalimat), yg lain .. sholat maghrib berjamaah .. sebagai obyek dan kata keterangan.
Dengan analogi yg sama, tidak ada beda antara "orang-orang yang melakukan dzikir berjamaah" dengan "jamaah dzikir". Kedua kata itu artinya sama, yaitu bahwa jamaah dzikir adalah orang-orang yang melakukan dzikir berjamaah.
Tentang kata-kata ini, " tanpa harus dipahami bahwa mereka melakukan itu dengan cara bersama-sama, satu suara dan serempak. ", .. ehm .. apakah ulama salafus shaleh, tabiin, tabiit tabiin, dan ulama2 sesudahnya yg berpendapat demikian. Di kitab mana kalimat semakna ini termuat. Saya kira kata-kata itu hanyalah hasil angan-angan / utak-atik penulis artikel saja.

Yang masuk kategori dzikrullah (dzikr kepada Allah subhanahu wata'ala) menurut para ulama di antaranya adalah majlis-majlis ilmu, halaqah al-Qur'an, bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan semisalnya.
Setuju. Dzikir secara umum berarti mengingat Allah. Termasuk menyebut kalimat-kalimat dzikir, berdoa kepada-Nya, serta majelis-majelis yang membahas ilmu, yang mendekatkan diri kita kepada-Nya.
...................., Sedangkan dzikir berjama'ah dengan satu suara adalah sesuatu yang masih dipertanyakan, kalau tidak dibilang sama sekali tidak memiliki dasar.
Dengan tanggapan kami pada, bahwa jamaah dzikir adalah orang2 yg melakukan dzikir berjamaah, maka dzikir berjamaah memiliki dasar yg kuat.
2. Memahami sighât (Konteks) Jama 'sebagai Anjuran untuk Melakukannya secara Berjama'ah
Di antara ayat yang dipahami sebagai anjuran dzikir berjama'ah adalah sebagai berikut, artinya;
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata)," Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. "(QS. 3:191)
Ayat di atas, dianggap sebagai dalil yang memungkinkan dzikir berjama'ah karena menggunakan sighât (konteks) jama '(plural) yaitu yadzkuruna. Menurut mereka jama 'berarti banyak dan banyak artinya bersama-sama.
Ayat di atas adalah prioritas untuk mengingat Allah dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam kesendirian maupun saat bersama-sama, memikirkan tentang kebesaran Allah, serta senantiasa untuk berdzikir kepada-Nya.
Dalil untuk dzikir berjamaah, antara lain seperti berikut (ada di kitab Riyadus Shalihin, terjemahan, Bab Keutamaan Majelis Dzikir)
Dari Abu Hurairah ra. Dari Abu Sa'id ra., keduanya berkata, Rasulullah saw. bersabda: "Tidakada suatu kaum yang duduk dalam suatu majelis untuk dzikir kepada Allah kecuali mereka dikelilingi oleh malaikat, diliputi rahmat, di turunkan ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya". (Riwayat Muslim)
Imam An-Nawawi dalam syarah beliau mengatakan bahwa: "hadits ini menunjukkan tentang kelebihan majelis-majelis dzikir dan kelebihan orang-orang yang berzikir, serta kelebihan berkumpul untuk berzikir massal.
Ada yg bilang, itu maksudnya adalah majelis yang membahas ilmu. Penafsiran itu tidak ada salah, namun tidak dapat menafikan juga bahwa majelis itu adalah majelis yang membaca kalimat-kalimat dzikir secara bersama-sama.
Membatasi secara mutlak hanya pada majelis ilmu saja malah justru membantah mereka bahwa dzikir harus dengan sirr. Dapatkah majelis membahas ilmu dilakukan secara sirr, dalam hati masing-masing? Tidak mungkin.

Perhatikan pula hadits berikut,
Dari Abu Hurairah ra. berkata, rasulullahsaw. bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berlalu-lalang di jalan untuk mencari majelis dzikir, di mana bila mereka mendapatkan sesuatu kaum yang berdzikir kepada Allah 'azza wajalla mereka memanggil malaikat-malaikat yang lain dengan berkata:" Marilah ke sini menyaksikan apa yang kamu cari ", kemudian para malaikat membentangkan sayapnya sampai ke langit dunia, lantas Tuhan bertanya kepada mereka padahal Tuhan telah lebih mengetahui:" Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku? "
Malaikat itu berkata: "Mereka mensucikan-Mu, memuji- Mu mengagungkan-Mu ". Tuhanbertanya: "Apakah mereka pernah melihat Aku?"
Para malaikat menjawab: "Demi Allah, mereka belum pernah melihat Engkau".
Tuhan bertanya: "Bagaimana seandainya mereka pernah melihat Aku?"
Para malaikat menjawab: "Seandainya mereka pernah melihat Engkau niscaya mereka lebih giat beribadah kepada-Mu, lebih giat mengagungkan Engkau, dan lebih giat mensucikan Engkau ".
Tuhan bertanya: "Apakah yang mereka minta?"
Para malaikat menjawab: "Mereka meminta surga kepada-Mu".
Tuhan bertanya: "Apakah mereka pernah melihat surga?"
Para malaikat menjawab: "Demi Allah, wahai Tuhanku mereka belum pernah melihatnya".
Tuhan bertanya: "Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?"
Para malaikat menjawab: "Seandainya mereka pernah melihatnya niscaya mereka lebih bersemangat untuk mencapainya, mereka lebih giat untuk memohonnya, dan mereka sangat mengharapkannya ".
Tuhan bertanya: "Dari apakah mereka berlindung diri?"
Malaikat menjawab: "Mereka berlindung diri dari api neraka".
Tuhan bertanya: "Apakah mereka pernah melihat neraka?"
Para malaikat menjawab: "Demi Allah, mereka belum pernah melihatnya".
Tuhan bertanya: "Bagaimana seandainya mereka pernah melihatnya?"
Para malaikat menjawab: "Seandainya mereka pernah melihatnya niscaya mereka lebih menjauhkan diri darinya dan mereka lebih takut terhadapnya".
Tuhan berfirman: "Maka saksikanlah olehmu bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka ".
Ada salah satu malaikat yang berkata: "Di dalam majlis itu ada si Fulan, seseorang yang bukan termasuk anggota dzikir, ia datang di situ karena ada sesuatu kepentingan".
Tuhan berfirman: "Mereka semua adalah termasuk ahli dzikir, di mana tidak ada seorangpun yang duduk di situ akan mendapatkan kecelakaan / siksaan ". (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Disebutkan bahwa malaikat mencari-cari majelis dzikir. Disebutkan pula bahwa orang-orang yang berada di dalam majelis dzikir itu adalah orang-orang yang membaca tasbih, takbir, tahlil dan tahmid, dan mereka juga mengajukan permohonan kepada Allah di dalam majelis itu.("Yusabbihuunaka, wa yukabbirunaka, wa yuhalliluunaka, wa yuhammiduunaka, wa yas'aluunaka")
Maka tidak salah apabila kemudian ada ummat yang membentuk majelis-majelis dzikir. Majelis dzikir seperti ini adalah majelis yang penuh berkah. Bahkan ketika ada orang yang "kebetulan hadir di dalam majelis tersebut karena ada kebutuhan lain", maka dia ikut mendapatkan keberkahannya.


3. Memahami Dalil Umum dengan Pemahaman Khusus
Di antara dalil umum yang menyebutkan tentang keutamaan dzikir yaitu sebagaimana yang diriwayatkan dari Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bergabung dalam salah satu jama'ah dzikir.
Di dalam hadits tersebut memang disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bergabung dalam jama'ah dzikir, tetapi riwayat ini masih bersifat umum, tidak menyentuh pada kaifiyat (tata cara) pelaksanaan dzikir. Tidak dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memimpin dzikir lalu ditirukan oleh para sahabat, atau mereka melakukannya bersama-sama dengan satu suara tanpa komando dari Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam, atau bagaimana?
Berikut saya kutipkan tentang salah satu kisah Rasulullah saw mengucap dzikir bersama-sama dengan para sahabat. Dikutip dari Majelis Rasulullah sebagaimana link yang ditampilkan di atas.
1). Para sahabat berdoa bersama Rasul saw dengan melantunkan syair (Qasidah / Nasyidah) di saat menggali khandaq (parit) Rasul saw dan sahabat2 Radhiyallhu? Anhum bersenandung bersama sama dengan ucapan: "HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN ..".(Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq). Ibn Hisyam adalah seorang ulama dari generasi Tabi'in, generasi pertama sesudah sahabat.
2). Saat membangun Masjidirrasul saw: para sahabat bersemangat sambil bersenandung: "Laa 'Iesy illa' Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah" setelah mendengar ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung dengan semangat: "Laa 'Iesy illa' Iesyul akhirah , Allahummarham Al Anshar wal Muhajirah .. "(Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw-bina 'masjidissyarif hal 116)
Tentang penggunaan dalil umum, tidak ada dalil yang melarang untuk menggunakan dalil-dalil yang bersifat umum, selama tidak melanggar syariat. Pelarangan ini tidak berdasar dan justru melanggar syariat, karena mengharamkan yang halal. Pelarangan secara mutlak inilah yg merupakan bid'ah sesat itu sendiri.
Sebagai contoh, perhatikan dalil keutamaan salah satu kalimat dzikir berikut. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,
"Dua kalimat yang ringan diucapkan, berat dalam timbangan, sangat dicintai oleh Allah Yang Maha Pengasih, yaitu:" Subhanallahi wa bihamdihi. Subhanallahil 'Azhim. "(Bukhari-Muslim).
Dalil ini telah memayungi secara umum untuk diterapkan kapanpun, di manapun, dan berapa kalipun. Sendiri-sendiri atau bersama-sama.
Ketika ada seseorang ingin mengamalkannya, ia membiasakan diri mengucapkannya 1x setiap sebelum tidur. Orang itu mengamalkan ilmu yg diketahuinya, berharap ridlo-Nya. Berharap semoga dzikirnya itu menjadi tabungan amal kelak di akhirat.


Hanya seorang yang jahil yang mengatakan, "Ini adalah bid'ah sesat yang nyata ... pelakunya masuk neraka. Tidak ada contoh Nabi saw mengucapkan kalimat itu sebelum tidur ".
Ketidakjelasan tentang bagaimana pelaksanaan dzikir ini menunjukkan bahwa mereka melakukannya tidak dengan berjama'ah, namun masing-masing berdzikir atau berdo'a sendiri-sendiri.
.............................................
Klaim itu adalah penafsiran sendiri. Siapakah ulama salafus shaleh yg menafsirkan demikian? Tidak ada. Ketidakjelasan pelaksanaan dzikir memungkinkan kita berdzikir bersama-sama atau sendiri-sendiri. Pelarangan terhadap salah satunya adalah bid'ah sesat. Karena mengharamkan hal yg dibolehkan.
Keutamaan dzikir berjamaah telah ditampilkan di atas. Jika orang-orang berdzikir secara berjamaah, adalah otomatis mereka membaca dzikir bersama-sama. Ada adab majelis, selain itu juga menambahkan kekusyu'an. Dapatkah Anda bayangkan jika ada orang membaca dzikirnya sendiri yg berbeda dengan bacaan jamaah. Itu pastilah mengganggu.
Tentang dipimpin oleh seorang ustadz, itu adalah termasuk untuk menambahkan kekusyu'an juga, biar serentak. Selain itu juga untuk mengajarkan kepada orang-orang yang masih awam, belum hafal. Membid'ahkan hal ini adalah sesuatu yang naif. Mengajarkan dzikir pasti dengan dipimpin.
Di samping itu, telah kita ketahui bahwa doa adalah bagian dari dzikir. Di dalam ayat-ayat Al Qur'an banyak sekali doa-doa yang bersifat jamak (untuk bersama-sama) bukan tunggal (sendirian). Jika dzikir bersama-sama adalah haram, maka doa bersama-sama adalah juga haram. Maka beranikah para anti dzikir berjamaah ini mengganti semua doa-doa yang bersifat jamak di dalam Al Qur'an menjadi bersifat tunggal. Dhomir Nahnu menjadi ANA. Niscaya mereka selain termasuk orang yang melarang perintah Allah, juga termasuk perubah Ayat Al-qur'an. Na'udzubillah
4. Menganggap Cara Baru dalam Ibadah sebagai Bid'ah Hasanah
......................................................
Sedangkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang berbunyi, "kullu bid'atin dhalalah," maka yang dimaksudkan adalah hal baru dalam ibadah atau syari'at. Maka seluruh hal yang baru dalam urusan ibadah adalah sesat, karena tidak ada seorang pun yang berhak membuat tata cara atau bentuk peribadatan di dalam Islam, siapa pun orangnya. Termasuk di dalamnya menentukan tata cara berdzikir kepada Allah subhanahu wata'ala, menentukan jenis bacaan, bilangan bacaan dan waktu pelaksanaannya.
Dzikir bersama yang berkembang akhir-akhir ini, kalau kita cermati ternyata merupakan perkara baru dalam Islam, baik dari sisi cara pelaksanaannya yang dilakukan secara bersama-sama dengan dipimpin seorang pemandu, atau dari sisi bilangannya yakni membaca kalimat ini sekian puluh, atau ratus, atau ribu kali dan juga terkadang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu seperti malam Tahun Baru Hijriyah dan lain sebagainya. Sedangkan ibadah dikatakan benar dan memenuhi kriteria ittiba '(meneladani Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam) apabila sesuai dengan petunjuk beliau dari sisi sebab, tata cara, waktu, jumlah, jenis dan tempatnya. Dan segala sesuatu yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka kita pun tidak bisa mengkhususkannya juga. (Ibnu Djawari)
Tidak setiap yang baru harus bid'ah sesat. Imam Syafi'i telah menjelaskan, ada bid'ah syayyi'ah dan bid'ah hasanah. Dan dzikir adalah hal ibadah ghairu mahdah.___Kutipan Saya Jika ada Dholalah pasti ada hasanah____
Perhatikan pula pada hadits Mu'adz berikut,
Rasulullah SAW ketika mengutus Mu'adz ke Yaman, maka beliau bersabda:
"Bagaimana engkau menghukum?." Muadz berkata: "Aku akan menghukumi dengan apa yang ada di dalam Kitabullah." Beliau bersabda: "Maka jika tidak ada dalam Kitabullah?." Muadz menjawab: "Maka dengan sunnah Rasulullah." Beliau berkata lagi: "Maka jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah?." Mu'adz menjawab: "Aku akan berijtihad dengan pikiranku." Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji bagi Allah yang tela hmemberi taufiq utusan Rasulullah SAW. "(HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Darami)
Hadits ini diterima dan dipergunakan hujah oleh sebagian besar para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqh. Perhatikan bagaimana ketika sahabat Muadz itu menemukan hal-hal yang tak diketemukan di Al Qur'an dan sunnah Rasul. Ia tidak mem-vonis semuanya sbg bid'ah sesat.Namun menelitinya terlebih dahulu dengan pikirannya. Rasulullah saw pun menyetujuinya.
Tentang istilah tata cara baru ibadah, saya tak paham apa yang dimaksud tata cara ibadah? Kalau yang dimaksud adalah persyaratan, maka tidak ada ketentuan ketentuan yang baru selain dari yang telah disyariatkan. Misal menutup aurat, bersuci untuk membaca al qur'an, dll.
Kalau yang dimaksud tata cara adalah rukun-rukunnya, maka tidak ada penetapan rukun-rukun di dalam dzikir berjamaah ini. Bacaan sekian kali, dan pengucapan kalimat Allah yang berurutan adalah untuk kebersamaan, bukan sebagai rukun atau tata cara yang harus demikian.Kebersamaan akan menambah kekusyu'an.
Tanyakanlah pada ustadz yang memimpin jamaah dzikir itu, apakah penetapan syariat dzikir yang baru? Bahwa kalau tidak sesuai dengan itu maka dzikirnya tidak sah? Tidak ada. Jadi ini hanya angan-angan para anti dzikir jamaah saja. Dan berdasar angan-angan itu mereka membid'ah sesatkan.
Kalau sekarang keadaan dibalik.
Misal, Anda mempelajari kalimat-kalimat dzikir kepada ustadz Anda. Dijelaskan pada bacaan-bacaan dzikir di dalam al Qur'an dan hadits2 Nabi saw. Ketika si murid tak paham, dan minta dipraktekkan. Maka ustadz Anda mempraktekkannya, Anda menirukan, teman-teman Anda juga menirukan. Ustadz Anda mengulang-ulang, murid-murid pun mengikutinya.


Jika Anda mengatakan dzikir berjamaah adalah bid'ah sesat, maka jamaah pengajian Anda itupun melakukan bid'ah sesat pula.

Nah,dengan penjelasan diatas Timbul pertanyaan ? 

Apakah do'a, bacaan Al-Qur'an, Zikir, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati?

Jawaban saya Pasti Sampai.

Memang sih ada dari saudara-saudara kita yang islam Ortodoks, memandang zikir, tahlilan, dan doa kepada orang yang sudah meninggal adalah suatu bid,ah. 

Singkat jawaban saya terhadap orang yang berpendapat bahwa mendoakan orang meninggal adalah suatu yang bid'ah dan tidak sampai kepada si Mayyit. saya menjawab dengan Ekstrim "Kalo sampean udah meninggal nanti, mau dido'akan atau tidak" .....!

Tapi ada alasan yang lebih rasional saya ambil dari al-qur'an dan as-sunnah

Dikampung saya Lombok umumnya dan khusunya desa Mamben. zikir, tahlilan shalawatan dan barzanji pada malam jum'at  merupakan suatu ibadah yang tidak bisa ditinggalkan, karena perbuatan tersebut sangat tinggi nilainya dihadapan Allah Swt. silahkan anda buka artikel keutamaan zikir, shalawat dan faedahnya.  
Zikir yang termasyhur  Dilombok ada dua Yaitu :
1. Aurodul Maroqiah 
   dikarang oleh Tuan guru mamben (TGH.Zaenuddin Arsyad)
2. Hiziban (hizib) : dikarang oleh tuan guru Pancor (TGH.Zaenuddin Abd.Madjid) 
    Dan orang-orang yang sudah mengamalkan zikir ini merasakan manfaatnya dunia dan akhirat.

Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do'a, bacaan Al-Qur'an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى (٣٩)

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan ". (QS An Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَابْنُ ادَمَاِنْقَطَعَعَمَلُهُ  اِلاَّمِنْثَلاَثٍصَدَقَةٍجَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍيُنْتَفَعُ بِهِ  اَوْوَلَدٍصَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ 
  
Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga hal; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa'atkan, dan anak yang sholeh yang mendo'akan dia. "
Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do'a, bacaan Al-Qur'an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna untuk orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman. "(QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu'min dengan orang mu'min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.
وَلِلْمُؤْمِنِيْنَوَاْلمُؤْمِنتِ    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ 
       

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu'min laki dan perempuan. "(QS Muhammad 47: 19)
Rasulullah bersabda

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu. "(HR Abu Dawud).
Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa'at do'a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.
Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; " Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat ".
Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, untuk seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do'a kepada orang mati dan lain-lainnya.
Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukhatau digantikan hukumnya:

Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (٢١)



 "Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua. "
orang yang sudah meninggal bukan berarti dia lepas dari segala urusan bahkan dijelaskan dalam hadist.orang yang meninggal itu di fitnah selama 7 hari. dan kita tidak tau apa yang menimpanya dialam sana apakah baik atau buruk yang menimpanya. maka dari itu kita sebagai umat islam di anjurkan saling mendoakan kepada saudara-saudara kita yang hidup maupun yang sudah meninggal.

para ulama 'telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa'at dari do'a dan amal shaleh orang yang hidup.
 
sumber
http://bajangkmangi.blogspot.com/