KH. Ahmad Dahlan (1868 – 1923), dilahirkan di Kauman Yogyakarta padatahun
1285 H / 1868 M dengan nama Muhammad Darwis. Tokoh ulama' pendiri
Muhammadiyah, perjuangannya dalam berda'wah Islam lewat Muhammadiyah
tak pernah luntur hingga wafat beliau di tahun 1923 M. Semboyan
beliau yang masih dipegang teguh oleh aktivis Muhammadiyah sampai saat
ini adalah : "Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup pada Muhammadiyah."
Sepanjang hidup beliau berda'wah memberantas TBC (Tahayul Bid'ah
Churofat) dan berusaha menciptakan masyarakat Islam dengan amal usaha.
Buya HAMKA (1908 – 1984),
HAMKA adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amarullah. Beliau
dilahirkan di Maninjau Sumatera Barat pada tanggal 16 Pebruari 1908.
Tahun 1928 menjadi peserta muktamar Muhammadiyah di Solo dan sejak itu
terus aktif di Muhammadiyah. Menjadi anggota PP Muhammadiyah mulai tahun
1953 – 1971 dan meninggal sebagai penasehat PP Muhammadiyah. Pada masa
orde lama pernah aktif sebagai anggota Konstituante hasil pemilu I tahun
1955 mewakili partai Masyumi jawa Tengah. Sewaktu di penjara di masa
orde lama belaiu menyelesaikan karyanya yang paling monumental yaitu
tafsir Al Azhar. Ketika MUI terbentuk pada tahun 1957 beliau menjadi
ketua umum yang pertama dan juga pada periode kedua pada tahun 1980,
tetapi kemudian mengundurkan diri karena fatwanya tentang haramnya
mengikuti natalan bersama ditentang oleh pemerintah.
Ki Bagus Hadikusumo
(1890 – 1954), nama kecilnya Hidayat, lahir di Kauman Yogyakarta
tanggal 24 Nopember 1890 dan wafat 3 September 1954 (usia 64 tahun).
Menjadi ketua PP Muhammadiyah tahun 1942-1953. Menjadi anggota BPUPKI
yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945 dan menjadi salah satu dari 15
anggota yang menuntut agar Islam dijadikan sebagai dasar Negara. Beliau
adalah tokoh Muhammadiyah yang gigih memperjuangkan untuk
menginstitusionalisasikan syariat Islam di Indonesia. Sumbangan terbesar
beliau untuk Republik Indonesia adalah ikut merumuskan kalimat
"Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya" dalam Piagam Jakarta yang ditolak oleh utusan
Kristen dari Indonesia Timur sehingga rumusannya berubah menjadi
"Ketuhanan yang Maha Esa" sebagai sila I Pancasila.
Prof. Dr. H. Moh. Amin Rais,
sejak reformasi tahun 1998 biasa juga disingkat MAR dan Bapak
Reformasi, lahir di Solo pada tanggal 26 April 1944. Meraih gelar doktor
pada tahun 1981 dari University of Chicago, AS dengan judul disertasi "The Moslem Brotherhood in Egypt : Its Rise, Demise and Resurgence" (Ikhwanul
Muslimin di Mesir : Kelahiran, Keruntuhan dan Kebangkitannya Kembali).
Juga dipercaya oleh beberapa tokoh penting (antara lain : Syafi'i
Ma'arif, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin, Kuntowidjoyo, Sudjatmiko, Ahmad
Baiquni, Bambang Sudibyo, Affan Gafar dan Mulyoto Djojomartono) untuk
menjadi pimpinan Pusat Pengkajian Strategi Kebijakan (PPSK). Menjadi
asisten ketua ICMI dan ketua Dewan Pakar ICMI (1991-1995). Menjadi
pengisi tetap kolom Resonansi di Harian Umum Republika. Tulisannya
tentang Freeport dan Busang di era Soeharto berkuasa sangat pedas
mengkritik penguasa membuatnya terlempar dari kursi ketua Dewan pakar
ICMI dan dicoret dari daftar calon anggota MPR tahun 1997. Dengan begitu
banyaknya aktivitas, bagi MAR Muhammadiyah tetap yang nomor satu. Pada
Periode 1990-1995 menjadi wakil ketua PP Muhammadiyah. Setelah Mukatamar
ke 43 di Aceh tanggal 1-5 Juli 1995 terpilih sebagai ketua PP
Muhammadiyah periode 1995-2000. Mendeklarasikan berdirinya Partai Amanat
Nasional (PAN) pada tanggal 8 Agustus 1998 dan dipercaya menjadi
nakhkoda PAN saat itu. Raihan suara 7,2% pada Pemilu 1999 membuatnya PAN
menjadi 5 partai besar RI serta mengantarnya menjadi ketua MPR. MAR
amat piawai sebagai King Maker dalam pentas politik nasional,
misalnya membuat manuver politik dengan membentuk poros tengah sehingga
LPJ Presiden BJ Habibie ditolak SU MPR tahun 1999, lalu menyebabkan Gus
Dur terpilih sebagai R1 dan Megawati sebagai R2. Juga menjadi otak
pelengseran Gus Dur dari kursi R1 karena kasus Buloggate, Brunaigate,
pemecatan Kapolri, Monko Polkam dan Menko Kesra.
Dr. dr. Ahmad Watik Pratiknya,
Watik panggilannya, dilahirkan di Banjarnegara pada tanggal 8 Pebruari
1948. Beliau seorang dokter yang doktor dan ahli anatomi serta seorang
penceramah yang handal. Mulai aktif di Muhammadiyah tahun 1985 dan
tercatat sebagai anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah periode
1985-1990. Pada Muktamar Muhammadiyah ke 42 di Yogyakarta terpilih
menjadi anggota 13 PP Muhammadiyah dan dipercaya sebagai Koordinator
Bidang Pendidikan. Pada Muktamar ke 43 di Banda Aceh kembali masuk
menjadi anggota 13 PP Muhammadiyah dan kali ini dipercaya sebagai
Koordinator Bidang Pembina Kesehatan dan Kesejahteraan PP Muhammadiyah.
Di lembaga profesi beliau pernah menjadi anggota Perhimpunan Ahli
Anatomi Indonesia (AAI), International Assoctiation of Anatamist (IAA), International Assoctiation of Biomechanics, IDI. Di
birokrat beliau pernah menjadi Sekretaris Wakil Presiden RI (9-9-1998
s/d 5-11-1999), Sekretaris Presiden B.J. Habibie dan Direktur Habibie
Centre mulai 1999 – sekarang.
** Cahaya ** Allah itu cahaya, dan yang lain dari Dia tidak ada cahaya.
Setiap cahaya adalah Dia, dan cahaya keseluruhan adalah Dia juga.
Cahaya itu adalah sesuatu yang men-dzahirkan atau yang menampakkan yang
lain atau lebih tinggi lagi yaitu sesuatu yang dengannya dan untuknya
yang lain di-dzahirkan bahkan lebih tinggi dari itu lagi yaitu sesuatu
yang dengannya untuk dirinya dan dirinya yang lain ter-dzahirkan.
Cahaya yang sebenarnya ialah sesuatu yang dengannya, untuknya, dan diri yang lain itu ter-dzahirkan atau ternampakan.
Cahaya ialah yang bercahaya dengan sendirinya.
Cahaya itu timbul dalam dirinya, dari dirinya dan untuk dirinya.
Cahaya tidak datang dari sumber yang lain.
Cahaya yang demikian itu tidak lain tidak bukan hanya Allah saja.
Bahwa langit dan bumi ini dipenuhi oleh cahaya, ada dua peringkat cahaya, yaitu pandangan mata dan pandangan akal.
Cahaya yang pertama itu ialah apa yang kita lihat di langit seperti
matahari, bulan dan bintang, dan apa yang kita lihat di bumi, seperti
cahaya yang menerangi seluruh muka bumi, yang menampakkan semua warna
dan bentuk, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, dan
jika tiada cahaya ini maka tidaklah kita melihat warna, atau tidak ada
warna.
Tiap-tiap bentuk dan ukuran besar atau kecil yang
terlihat oleh kita adalah diketahui oleh warna, dan tidak mungkin
melihatnya tanpa warna.
Berkenaan cahaya Akal, maka ‘Alam
tinggi’ itu dipenuhi oleh cahaya itu, yaitu seperti kejadian Malaikat,
dan ‘Alam rendah’ ini pun dipenuhi oleh cahaya itu yaitu seperti hidup
(Nyawa) binatang dan hidup manusia.
Susunan atau keadaan Alam rendah ini didzahirkan dengan cahaya Malaikat.
Inilah susunan atau keadaan yang disebut oleh Allah;
“Dialah yang membentuk kamu dari tanah, dan menampakkan kamu di permukaan bumi, dan Dia menjadikan kamu sebagai Khalifah”
Bahwa seluruh alam ini dipenuhi oleh cahaya pandangan dzahir dan cahaya
Akal Batin, dan juga cahaya-cahaya tingkat rendah ini dipancarkan
atau dikeluarkan dari satu kepada yang lain. seperti cahaya yang keluar
dan muncul dari sebuah lampu, sementara lampu itu sendiri ialah
cahaya
Cahaya Kenabian yang tinggi. Ruh-ruh Kenabian itu
dinyalakan dari Ruh-ruh yang tinggi, seperti lampu dinyalakan api tadi,
dan ruh-ruh yang tinggi ini dinyalakan dari satu kepada yang lain.
Susunan ini adalah bertingkat-tingkat keatas. Semua ini naik, dan naik
ke atas sampai ke cahaya diatas segala cahaya. Sumber dan puncak
segala cahaya yaitu Allah.
Semua cahaya-cahaya lain adalah
pinjaman dari Allah dan Dialah cahaya sebenarnya. segalanya datang dari
cahayaNya, bahkan Dialah segala-galanya.
Dialah yang sebenarnya
ada. Tiada cahaya kecuali Dia. Cahaya yang lain hanya cahaya wajah yang
menyertaiNya, bukan timbul dari diri mereka sendiri. dengan demikian,
wajah dan segala sesuatunya menghadap kepada Dia
Firman Allah; “Kemana saja mereka memalingkan muka, di situ ada Wajah Allah”.
Tiada Tuhan selain Dia, karena perkataan “TUHAN” itu menunjukkan
sesuatu yang kepada Nya semua muka menghadap dalam ibadah dan dalam
penyaksian Dialah Tuhan.
Saya (Imam Ghazali) mengartikan muka atau wajah manusia adalah hati manusia, karena hati itulah cahaya dan Ruh.
Bahkan sebagaimana; “TIADA YANG DISEMBAH MELAINKAN DIA”, maka begitulah
juga ; “TIADA YANG MENYEMBAH SELAIN DIA”, karena perkataan “DIA” itu
membawa maksud sesuatu yang boleh ditunjuk
Tetapi dalam tiap-tiap peristiwa dan keadaan kita boleh menunjuk saja.
Setiap kali menunjuk sesuatu, tunjukkan itu pada hakekatnya adalah
kepada Dia, meskipun tidak sadar oleh karena ketidak tahuan tentang
hakekat dari segala hakekat,
Seseorang itu tidak mungkin menunjuk cahaya matahari, tetapi boleh menunjuk matahari.
Maka begitu juga halnya dengan hubungan semua makhluk dengan Allah.
Perumpamaan hubungan makhluk dengan Allah adalah seperti hubungan cahaya matahari dengan matahari.
Oleh karena itu, ucapan “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH” adalah ucapan Tauhid kebanyakan orang.
Tetapi ucapan tauhid sedikit orang (yang mempunyai Makrifat) ialah “TIDAK ADA DIA MELAINKAN DIA”.
Yang pertama untuk orang awam, dan yang kedua itu untuk “orang khusus”.
Yang kedua itu lebih benar, lebih tepat dan lebih sesuai. sudah
sewajarnya orang yang mengucap demikian itu memasuki Alam Keesaan
(Uluhiyah) dan Ketunggalan yang Maha suci dan Mutlak, Kerajaan Yang
Maha Esa dan Maha Tunggal, dan inilah peringkat atau kedudukan terkahir
kenaikkan manusia. Tidak ada tingkatan yang lebih tinggi dari itu lagi.
karena “NAIK” itu melibatkan banyak tingkatan seperti melibatkan dua
tingkatan naik “DARI” dan naik “KE”.
Apabila jumlahnya tingkatannya telah lenyap, maka berdirilah Keesaan.
Perbandingan tidak ada lagi, semua isyarat atau pengucapan dari “SINI”
ke “SANA” pun tidak ada lagi. Tidak ada lagi “TINGGI” atau
“RENDAH”. Tidak ada “ATAS” atau “BAWAH”.
Dalam tingkatan
tersebut, naik ke atas lagi bagi Ruh, tidak mungkin, karena tidak ada
lebih tinggi daripada yang Paling tinggi.
Tidak ada tingkat-tingkat di samping Esa dan Tunggal.
Di sini tingkatan telah habis.
Tidak ada kenaikkan ‘Mikraj’ lagi untuk jiwa dan ruh.
Jika ada pun, itu adalah “Pertukaran disini”.
Maka pertukaran itu ialah “Turun ke langit yang paling rendah”
cahayanya dari atas turun kebawah, karena yang paling tinggi itu,
meskipun tidak ada lebih tinggi lagi dari tingkat itu, tetapi ada yang
rendah. Inilah matlumat (tempat paling tinggi) dari segala matlumat.
Tempat paling tinggi ialah matlumat terakhir yang dicari oleh ruh,
yang diketahui oleh mereka yang tahu dan kenal saja, tetapi dinafikan
oleh mereka yang tidak tahu. Ini termasuk dalam bidang Ilmu Tersembunyi
yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali orang yang mempunyai
Makrifat.
Sekiranya mereka menceritakan ilmu ini, maka ia akan dinafikan oleh orang-orang yang ‘jahil’ tentang Allah.
Tidak ada salahnya orang-orang yang mempunyai Makrifat ini menyebut;
“Turun ke langit yang paling rendah” yaitu turunnya seorang malaikat,
meskipun seorang daripada mereka itu telah tuduh membuat keterangan yag
kurang wajar.
Dia tenggelam dalam Keesaan Allah, dan berkata,
bahwa Allah telah “Turun ke langit paling rendah” bahwa penurunan ini
adalah penurunannya, diibaratkan kepada cara-cara keadaan Alam dzohir,
maka digunakan perumpamaan tersebut.
Dia (orang yang tenggelam dalam Keesaan Allah itu) itulah yang dimaksudkan oleh sabda Nabi Muhammad saw.;
“Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar, matanya yang
dengannya dia melihat, lidahnya yang dengannya dia bercakap”.
Jika Nabi itu menjadi telinga, mata dan lidah Allah, maka Allah sajalah yang mendengar, melihat, bercakap.
Dialah juga yang dimaksudkan dengan dengan firmanNya kepada Nabi Musa;
“Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku”.
Menurut ini, pergerakan badan orang-orang yang betul-betul beriman
dengan Kesaan Allah itu adalah dari langit yang paling rendah itu, dan
Akalnya dari langit yang lebih tinggi dari langit yang kedua itu.
Dari langit Akal itu dia naik ke atas ke tempat di mana makhluk tidak
boleh naik lagi, yaitu Kerajaan Ketuhanan Yang Maha Esa,
Tujuh lapis dan setelah itu “Dia duduk di atas singgahsana” tauhid dan disitu “Memerintah” seluruh lapisan-lapisan langit itu.
Orang telah tamat pengembaraan sedemikian rupa, maka ayat ini boleh
dipakai kepada dia; “Allah menjadikan Adam menurut bayanganNya” Apabila
ayat ini direnungi dan difikirkan secara mendalam, maka diketahulah
bahwa maksudnya adalah serupa dengan kata-kata;
“Akulah Yang Haq (Tuhan)”. “Maha suci Aku” atau sabda Nabi saw.
bahwa Allah berfirman;
“Aku sakit, tetapi engkau tidak mengunjungi Aku” dan “Akulah telinganya, matanya dan lidahnya”.
Baiknya sekarang kita hentikan pembahasan ini karena saya (Imam
Ghazali) pikir saudara belum pernah mendengar lebih dari apa yang telah
saya sampaikan ini
sari An dis.
1. ALIF artinya tidak ada tuhan selain Allah 2. BA artinya yg awal dan yg akhir, yg buka dan yg tutup
3. THA artinya yg menerima taubat dari segala hambanya
4. TSA artinya yg maha menetapkan bagi semua mahluk
5. JIM artinya yg maha agung, dan terpuji serta suci akan seluruh nama namanya
6. KHA artinya yg haq, maha hidup, penyayang dan kekal
7. KHO artinya yg mengetahui akan seluruh perbuatan hamba hambanya
8. DAL artinya yg memberi balasan kepada hambanya baik atau buruk
9. DZAL artinya yg maha memiliki seluruh keagungan dan kemuliaan
10. RA artinya yg maha lembut terhadap hamba hambanya
11. ZA artinya yg merupakan hiasan hamba terhadap khaliknya
12. SIN artinya yg maha mendengar dan yg maha melihat
13. SYIN artinya hanya kepada Allah seorang hamba bersyukur
14. SHOD artinya yg maha benar akan setiap janji janjinya
15. DHOD artinya yg maha nampak dan menampakan seluruh tanda tanda
16. THO artinya yg maha adil dan maha bijaksana
17. DHZO artinya tidak beranak dan tidak diperanakan
18. 'AIN artinya yg maha mengetahui akan hamba hambanya
19. GHOIN artinya tempat pengharapan dari semua ciptaan
20. FA artinya yg maha menumbuhkan biji bijian dan tumbuh tumbuhan
21. QOF artinya yg maha kuasa atas segala mahluk
22. KAF artinya yg maha mencukupi dan tidak ada satupun yg setara dengan dia
23. LAM artinya yg maha kaya dan pemurah terhadap hamba hambanya
24. MIM artinya yg memiliki semua kerajaan
25. NUN artinya cahaya bagi langit dan bersumber pada cahaya arasy-nya
26. WAWU artinya tempat bergantung semua mahluk dan tidak dipersekutukan
27. HA artinya yg maha pemberi petunjuk kepada seluruh mahluknya
28. LAM ALIF artinya tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu baginya
29. HAMZAH artinya yg maha pemberi petunjuk kepada seluruh mahluknya
30. YA artinya kekuasaan Allah yg terbuka luas bagi seluruh mahluknya -------------oOo------------ 1. Didalam sulbi: MAUL HAYAT namanya (misrak kan nafas ke sulbi)
2. Dipohon kalam: MADI namanya (Nuk)
3. Dipucuk kalam: MANI namanya
4. Keluar kalam: MANIKAM namanya (jalil jalallah nama asli bayi)
5. Mula masuk: NUTFAH namanya
6. Umur satu bulan: RUH NABATI namanya (jalallah)
7. Umur tiga bulan: RUH JASMANI namanya
8. Umur lima bulan: RUH NAFSANI namanya
9. Umur tujuh bulan: RUH ROHANI namanya (tik tik tik)
10. Umur sembilan bulan: RUH IDHAFI namanya (haq haq memuji dirinya rabbun)
11. Keluar dari rahim: WALADAL INSAN AMINULLAH namanya
12. Umur tujuh hari: MUHAMMAD namanya
13. Umur empat puluh hari: MUHAMMAD IDHAFI namanya
14. Umur dua tahun: MUHAMMAD AINAL INSAN namanya
15. Umur tujuh tahun: MUHAMMAD SHOLATULLAH namanya
16. Umur sepuluh tahun: MUHAMMAD SHOLAWATULLAH namanya (detik nafas)
17. Umur empat belas tahun: MUHAMMAD KAMARULLAH namanya
18. Umur dua puluh lima tahun: MUHAMMAD AMINULLAH namanya
19. Umur tiga puluh lima tahun: MUHAMMAD SHIRATULLAH namanya
20. Umur empat puluh tahun: MUHAMMAD UZUNULLAH namanya
21. Umur empat puluh satu tahun: MUHAMMAD RASULULLAH namanya
22. Ketika isra'miraj: ABDULLAH namanya
23. Ketika dilangit: MUHAMMAD MUTLAK namanya
24. Ketika dimustawa: AHMAD namanya
25. Ketika umur enam puluh tiga tahun: KALAMULLAH namanya
26. Ketika kembali: RAHMATULLAH namanya
27. Ketika di mahsar: AL HASYIR namanya
28. Lebur kehadirat Allah: HABIBULLAH namanya
29. Nama yg terahasia: AHMAD ABUL QASIM namanya
30. Nama tiada huruf tiada suara: HAQ namanya (aslinya)
Itulah tiga puluh huruf, Tiga puluh ayat, Tiga puluh juz menjadi Al Qur'an dalam dirimu...
A. SEJARAH BERDIRINYA MUHAMMADIYAH DI INDONESIA
Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8
Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad
Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang
Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu
dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat
mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada
ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena
itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah
kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan
kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman
dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau,
sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman
bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir
kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini
Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki,
beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian
yang disebut “Sidratul Muntaha”. Pada siang hari pelajaran untuk
anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang
telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922
dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan.
Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim
yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu
sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang
di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat
ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.
B. PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DI INDONESIA
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia.
Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga
Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi
pengikut Nabi Muhammad SAW.
Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang
terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran
Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan
adaptasi.
Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan
pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik (ini dibuktikan
dengan jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah yang
berjumlah ribuan). Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang
bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai
sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga
menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem.
Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada
perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang
berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Ayat tersebut, menurut
para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam
menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang
juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir
ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan
amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung
makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya.
Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri
rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.
C. Latar Belakang Kelahiran
Muhammadiyah merupakan gerakan umat Islam yang lahir di Yogyakarta pada
tanggal 8 Djulhijah 1330 H, atau tanggal 18 Nopember 1912 M.
Muhammadiyah berasal dari bahasa Arab “Muhammad” yaitu nama nabi
terakhir, kemudian mendapatkan ‘ya nisbiyah’ yang artinya menjeniskan.
Jadi Muhammadiyah berarti umatnya Muhammad atau pengikutnya Muhammad.
Tujuan : menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenarnya.
Berdasarkan situs resmi Muhammadiyah, Muhammadiyah didirikan oleh K.H.
Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330
H/18 November 1912.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad
Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi
hal-hal mistik. Kegiatan ini pada awalnya juga memiliki basis dakwah
untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul Muntaha. Selain itu
peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan
sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan
selanjutnya berganti nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang
dikenal dengan Madrasah Mu’allimin _khusus laki-laki, yang bertempat di
Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Mu’allimaat Muhammadiyah khusus
Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).
Pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah
terbatas di karesidenan-karesidenan seperti: Yogyakarta, Surakarta,
Pekalongan, dan Pekajangan, daerah Pekalongan sekarang. Selain Yogya,
cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun
1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke
Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo
yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke
seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah
bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Pada tahun 1938,
Muhammadiyah telah tersebar keseluruh Indonesia. Terdapat pula
organisasi khusus wanita bernama Aisyiyah.
Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar,
berasa Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist. Gerakan
Muhammadiyah bermaksud untuk berta’faul (berpengharapan baik) dapat
mencontoh dan meneladani jejak perjuangan nabi Muhammad SAW, dalam
rangka menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam semata-mata demi
terwujudnya izzul Islam wal muslimin, kejayaan Islam sebagai idealita
dan kemuliaan hidup sebagai realita.
Faktor utama yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil
pendalaman K.H. Ahmad Dahlan terhadap Al Qur’an dalam menelaah,
membahas, meneliti dan mengkaji kandungan isinya. Dalam surat Ali Imran
ayat 104 dikatakan bahwa: “ Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Memahami seruan diatas, K.H. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk
membangun sebuah perkumpulan, organisasi atau perserikatan yang teratur
dan rapi yang tugasnya berkhidmad pada pelaksanaan misi dakwah Islam
amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat.
D. Visi dan Misi Muhammadiyah
1. Visi
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan
As-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqomah dan
aktif dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar di semua
bidang dalam upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil’alamin menuju
terciptanya/terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
2. Misi
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar memiliki misi :
1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah SWT
yang dibawa oleh para Rasul sejak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad
saw.
2. Memahami agama dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa
ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan
kehidupan.
3. Menyebar luaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an sebagai
kitab Allah terakhir dan Sunnah Rasul untuk pedoman hidup umat manusia.
4. Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
C. Faktor Internal dan Eksternal Lahirnya Muhammadiyah
1. Faktor obyektif yang bersifat Internal
a) Kelemahan dan praktek ajaran Islam.
Kelemahan praktek ajaran agama Islam dapat dijelaskan melalui dua bentuk
1. Tradisionalisme
Pemahaman dan praktek Islam tradisionalisme ini ditandai dengan
pengukuhan yang kuat terhadap khasanah intelektual Islam masa lalu dan
menutup kemungkinan untuk melakukan ijtihad dan pembaharuan-pembaharuan
dalam bidang agama. Paham dan praktek agama seperti ini mempersulit
agenda ummat untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan baru yang
banyak datang dari luar (barat). Tidak jarang, kegagalan dalam melakukan
adaptasi itu termanifestasikan dalam bentuk-bentuk sikap penolakan
terhadap perubahan dan kemudian berapologi terhadap kebenaran
tradisional yang telah menjadi pengalaman hidup selama ini.
2. Sinkretisme
Pertemuan Islam dengan budaya lokal disamping telah memperkaya khasanah
budaya Islam, pada sisi lainnya telah melahirkan format-format
sinkretik, percampuradukkan antara sistem kepercayaan asli
masyarakat-budaya setempat. Sebagai proses budaya, percampuradukkan
budaya ini tidak dapat dihindari, namun kadang-kadang menimbulkan
persoalan ketika percampuradukkan itu menyimpang dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan dalam tinjauan aqidah Islam. Orang Jawa misalnya,
meski secara formal mengaku sebagai muslim, namun kepercayaan terhadap
agama asli mereka yang animistis tidak berubah. Kepercayaan terhadap
roh-roh halus, pemujaan arwah nenek moyang, takut pada yang angker,
kuwalat dan sebagainya menyertai kepercayaan orang Jawa. Islam, Hindu,
Budha dan animisme hadir secara bersama-sama dalam sistem kepercayaan
mereka, yang dalam aqidah Islam banyak yang tidak dapat dipertanggung
jawabkan secara Tauhid.
b) Kelemahan Lembaga Pendidikan Islam
Lembaga pendidikan tradisional Islam, Pesantren, merupakan sistem
pendidikan Islam yang khas Indonesia. Transformasi nilai-nilai keIslaman
ke dalam pemahaman dan kesadaran umat secara institusional sangat
berhutang budi pada lembaga ini. Namun terdapat kelemahan dalam sistem
pendidikan Pesantren yang menjadi kendala untuk mempersiapkan
kader-kader umat Islam yang dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan
zaman. Salah satu kelemahan itu terletak pada materi pelajaran yang
hanya mengajarkan pelajaran agama, seperti Bahasa Arab, Tafsir, Hadist,
Ilmu Kalam, Tasawwuf dan ilmu falak. Pesanteren tidak mengajarkan
materi-materi pendidikan umum seperti ilmu hitung, biologi, kimia,
fisika, ekonomi dan lain sebagainya, yang justru sangat diperlukan bagi
umat Islam untuk memahami perkembangan zaman dan dalam rangka menunaikan
tugas sebagai khalifah di muka bumi ini. Ketiadaan lembaga pendidikan
yang mengajarkan kedua materi inilah yang menjadi salah satu latar
belakang dan sebab kenapa KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah,
yakni untuk melayani kebutuhan umat terhadap ilmu pengetahuan yang
seimbang antara ilmu agama dan ilmu duniawi.
2. Faktor Objektif yang Bersifat Eksternal
a. Kristenisasi
Faktor objektif yang bersifat eksternal yang paling banyak mempengaruhi
kelahiran Muhammadiyah adalah kristenisasi, yakni kegiatan-kegiatan yang
terprogram dan sistematis untuk mengubah agama penduduk asli, baik yang
muslim maupun bukan, menjadi kristen. Kristenisasi ini mendapatkan
peluang bahkan didukung sepenuhnya oleh pemerintah Kolonialisme Belanda.
Missi Kristen, baik Katolik maupun Protestan di Indonesia, memiliki
dasar hukum yang kuat dalam Konstitusi Belanda. Bahkan kegiatan-kegiatan
kristenisasi ini didukung dan dibantu oleh dana-dana negara Belanda.
Efektifitas penyebaran agama Kristen inilah yang terutama mengguggah KH.
Ahmad Dahlan untuk membentengi ummat Islam dari pemurtadan.
b. Kolonialisme Belanda
Penjajahan Belanda telah membawa pengaruh yang sangat buruk bagi
perkembangan Islam di wilayah nusantara ini, baik secara sosial,
politik, ekonomi maupun kebudayaan. Ditambah dengan praktek politik
Islam Pemerintah Hindia Belanda yang secara sadar dan terencana ingin
menjinakkan kekuatan Islam, semakin menyadarkan umat Islam untuk
melakukan perlawanan. Menyikapi hal ini, KH. Ahmad Dahlan dengan
mendirikan Muhammadiyah berupaya melakukan perlawanan terhadap kekuatan
penjajahan melalui pendekatan kultural, terutama upaya meningkatkan
kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan.
c. Gerakan Pembaharuan Timur Tengah
Gerakan Muhammadiyah di Indonesia pada dasarnya merupakan salah satu
mata rantai dari sejarah panjang gerakan pembaharuan yang dipelopori
oleh Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin
al-Afgani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain sebagainya. Persentuhan
itu terutama diperolah melalui tulisan-tulisan Jamaluddin al-Afgani
yang dimuat dalam majalah al-Urwatul Wutsqa yang dibaca oleh KH. Ahmad
Dahlan. Tulisan-tulisan yang membawa angin segar pembaharuan itu,
ternyata sangat mempengaruhi KH. Ahmad Dahlan, dan merealisasikan
gagasan-gagasan pembaharuan ke dalam tindakan amal yang riil secara
terlembaga.
Dengan melihat seluruh latar belakang kelahiran Muhammadiyah, dapat
dikatakan bahwa KH. Ahmad Dahlan telah melakukan lompatan besar dalam
beritijtihad. Prinsip-prinsip dasar perjuangan Muhammadiyah tetap
berpijak kuat pada al-Quran dan Sunnah, namun implementasi dalam
operasionalisasinya yang memeiliki karakter dinamis dan terus
berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman Muhammadiyah banyak
memungut dari berbagai pengalaman sejarah secara terbuka (misalnya
sistem kerja organisasi yang banyak diilhami dari yayasan-yayasan
Katolik dan Protestan yang banyak muncul di Yogyakarta waktu itu.
1. C. Tokoh-Tokoh Muhammadiyah Dari Masa ke Masa
No Nama Awal Jabatan Akhir Jabatan
1 KH. Ahmad Dahlan 1912 1923
2 KH. Ibrahim 1923 1932
3 KH. Hisyam 1932 1936
4 KH. Mas Mansur 1936 1942
5 Ki Bagoes Hadikoesoemo 1942 1953
6 Buya AR Sutan Mansur 1953 1959
7 KH. M Yunus Anis 1959 1962
8 KH. Ahmad Badawi 1962 1968
9 KH. Faqih Usman 1968 1971
10 KH. AR. Fachruddin 1971 1990
11 KH. A. Azhar Basyir 1990 1995
12 Prof. Dr. H. Amien Rais 1995 2000
13 Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif 2000 2005
14 Prof. Dr. H. Din Syamsuddin 2005 Sampai Sekarang dan habis masa jabatannya tahun 2015
D. Perkembangan Muhammadiyah Di Indonesia
1. Perkembanngan secara Vertikal
Dari segi perkembangan secara vertikal, Muhammadiyah telah berkembang ke
seluruh penjuru tanah air. Akan tetapi, dibandingkan dengan
perkembangan organisasi NU, Muhammadiyah sedikit ketinggalan. Hal ini
terlihat bahwa jamaah NU lebih banyak dengan jamaah Muhammadiyah. Faktor
utama dapat dilihat dari segi usaha Muhammadiyah dalam mengikis
adat-istiadat yang mendarah daging di kalangan masyarakat, sehingga
banyak menemui tantangan dari masyarakat.
1. Perkembangan secara Horizontal
Dari segi perkembangan secara Horizontal, amal usaha Muhamadiyah telah
banyak berkembang, yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Perkembangan
Muhamadiyah dalam bidang keagamaan terlihat dalam upaya-upayanya,
seperti terbentukanya Majlis Tarjih (1927), yaitu lembaga yang
menghimpun ulama-ulama dalam Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan
permusyawaratan dan memberi fatwa-fatwa dalam bidang keagamaan, serta
memberi tuntunan mengenai hukum. Majlis ini banyak telah bayak memberi
manfaat bagi jamaah dengan usaha-usahanya yang telah dilakukan:
1. Memberi tuntunan dan pedoman dalam bidang ubudiyah sesuai dengan
contoh yang telah diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Memberi pedoman dalam penentuan ibadah puasa dan hari raya dengan
jalan perhitungan “hisab” atau “astronomi” sesuai dengan jalan
perkembangan ilmu pengetahuan modern.
3. Mendirikan mushalla khusus wanita, dan juga meluruskan arah kiblat
yang ada pada amasjid-masjid dan mushalla-mushalla sesuai dengan arah
yang benar menurut perhitungan garis lintang.
4. Melaksanakan dan menyeponsori pengeluaran zakat pertanian, perikanan,
peternakan, dan hasil perkebunan, serta amengatur pengumpulan dan
pembagian zakat fitrah.
5. Memberi fatwa dan tuntunan dalam bidang keluarga sejahtera dan keluarga berencana.
6. Terbentuknya Departemen Agama Republik Indonesia juga termasuk peran dari kepeloporan pemimpin Muhammadiyah.
7. Tersusunnya rumusan “Matan Keyakinan dan Cita-Cita hidup
Muhammadiyah”, yaitu suatu rumusan pokok-pokok agama Islam secara
sederhana, tetapi menyeluruh.
Dalam bidang pendidikan, usaha yang ditempuh Muhammadiyah meliputi:
1. mendirikan sekolah-sekolah umum dengan memasukkan ke dalamnya ilmu-ilmu keagamaan, dan
2. mendirikan madrasah-madrasah yang juga diberi pendidikan pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan umum.
Dengan usaha perpaduan tersebut, tidak ada lagi pembedaan mana ilmu
agama dan ilmu umum. Semuanya adalah perintah dan dalam naungan agama.
Dalam bidang kemasyarakatan, usaha-usaha yang telah dilakukan
Muhammadiyah meliputi:
1. Mendirikan rumah-rumah sakit modern, lengkap dengan segala peralatan,
membangun balai-balai pengobatan, rumah bersalin, apotek, dan
sebagainya.
2. Mendirikan panti-panti asuhan anak yatim, baik putra maupun putri untuk menyantuni mereka.
3. Mendirikan perusahaan percetakan, penerbitan, dan toko buku yang
banyak memublikasikan majalah-majalah, brosur dan buku-buku yang sangat
membantu penyebarluasan paham-paham keagamaan, ilmu, dan kebudayaan
Islam.
4. Pengusahaan dana bantuan hari tua, yaitu dana yang diberikan pada
saat seseorang tidak lagi bisa abekerja karena usia telah tua atau cacat
jasmani.
5. Memberikan bimbingan dan penyuluhan keluarga mengenai hidup sepanjang tuntunan Ilahi.
Dalam bidang politik, usaha-usaha Muhammadiyah meliputi:
1. Menentang pemerintah Hindia Belanda yang mewajibkan pajak atas ibadah kurban. Hal ini berhasil dibebaskan.
2. Pengadilan agama di zaman kolonial berada dalam kekuasaan penjajah
yang tentu saja beragama Kristen. Agar urusan agama di Indonesia, yang
sebagian besar penduduknya beragama Islam, juga dipegang oleh orang
Islam, Muhammadiyah berjuang ke arah cita-cita itu.
3. Ikut memelopori berdirinya Partai Islam Indonesia. Pada tahun 1945
termasuk menjadi pendukung utama berdirinya partai Islam Masyumi dengan
gedung Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai tempat
kelahirannya.
4. Ikut menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia di
kalangan umat Islam Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam
tabligh-tablighnya, dalam khotbah ataupun tulisan-tulisannya.
5. Pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, pernah seluruh bangsa
Indonesia diperintahkan untuk menyembah dewa matahari, tuhan bangsa
Jepang. Muhammadiyah pun diperintah untuk melakukan Sei-kerei,
membungkuk sebagai tanda hormat kepada Tenno Heika, tiap-tiap pagi
sesaat matahari sedang terbit. Muhammadiyah menolak perintah itu.
6. Ikut aktif dalam keanggotaan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) dan
menyokong sepenuhnya tuntutan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) agar
Indonesia mempunyai parlemen di zaman penjajahan. Begitu juga pada
kegiatan-kegiatan Islam Internasional, seperti Konferensi Islam Asia
Afrika, Muktamar Masjid se-Dunia, dan sebagainya, Muhammadiyah ikut
aktif di dalamnya.
7. Pada saat partai politik yang bisa amenyalurkan cita-cita perjuangan
Muhammadiyah tidak ada, Muhammadiyah tampil sebagai gerakan dakwah Islam
yang sekaligus mempunyai fungsi politik riil. Pada saat itu, tahun
1966/1967, Muhammadiyah dikenal sebagai ormaspol, yaitu organisasi
kemasyarakatan yang juga berfungsi sebagai partai politik.
Dengan semakin luasnya usaha-usaha yang dilakukan oleh Muhammadiyah,
dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang berkedudukan sebagai badan
pembantu pemimpin persyarikatan. Kesatuan-kesatuan kerja tersebut berupa
majelis-majelis dan badan-badan. Selain majelis dan lembaga, terdapat
organisasi otonom, yaitu organisasi yang bernaung di bawah organisasi
induk, dengan amasih tetap memiliki kewenangan untuk mengatur rumah
tangganya sendiri. Dalam persyarikatan Muhammadiyah, organisasi otonom
(Ortom) ini ada beberapa buah, yaitu:
1. ‘Aisyiyah
2. Nasyiatul ‘Aisyiyah
3. Pemuda Muhammadiyah
4. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)
5. Ikatan Mahasiswa Muhamadiyyah (IMM)
6. Tapak Suci Putra Muhamadiyah
7. Gerakan Kepanduan Hizbul-Wathan
Organisasi-organisasi otonom tersebut termasuk kelompok Angkatan Muda
Muhammadiyah (AMM). Keenam organisasi otonom ini berkewajiban mengemban
fungsi sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha
Muhammadiyah.
E. Pemikiran/Gagasan Tokoh-Tokoh Muhammadiyah
1. K.H. Ahmad Dahlan, lahir di Yogjakarta 1 Agustus 1868, ia berasal
adari elit keagamaan kesultanan Yogjakarta, menjadi haji tahun 1890,
sekembalinya dari Mekkah, gagasanya memperbaharui Islam melalui
organisasi yang dibentuknya. Hingga tahun 1925 Muhammadiyah telah
mendirikan 50 buah sekolah dengan jumlah murid 4000 orang, balai
pengobatan dan panti asuhan.
2. K.H. Ibrahim,lahir 7 Mei 1874 di Yogjakarta, beliau adik Nyai Ahmad
Dahlan. Pada masa ini Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat.
Gagasannya adalah 1) kaum ibu supaya rajin beramal dan beribadah,
senantiasa mengingat Allah, rajin menjalankan perintah agama Islam, 2)
pengajian model sorogan, yaitu belajar prifat bersifat sindividual
terutama untuk anak-anak muda, dan model weton, yaitu cara mengajar
mengaji kyai membaca sedang santri-santrinya mendengarkan dengan
memegang kitabnya masing-masing, 3) konggres mulai diadakan secara
bergiliran diseluruh kota Indonesia, seperti konggres Muhammadiyah ke
15di Surabaya, kemudian berturut-turut setelah itu di selenggarakan di
kota Pekalongan, Solo, Bukittinggi, Makasar dan Semarang, 4) bea siswa,
khitanan massal, memperbaiki badan perkawinan dan menjodohka putra-putri
Muhammadiyah, penurunan gambar KH. Ahmad Dahlan, karena ada indikasi
mengkultuskan beliau, 5) member kebebasan pada golongan muda untuk
mengekspresikan cara-cara berdakwah.
3. KH. Hisyam, lahir Yogjakarta, 10 November 1883, pada pereode ini
perekembangan sekolah sekolah Muhammadiyah tumbuh subur bak jamur,
karena beliau lebih memperhatikan tentang pendidikan dan pengajaran
.Gagasannya, tentang 1) ketertiban administrasi dan menejemen
organisasi, 2) modernisasi sekolah-sekolah Muhammadiyah, sampai masa
berakhir kepemimpinannya tahun 1932 telah berdiri 103 volkschool, 47
Standaardschool, 69 hollandschool Inlandsche School ( HIS), dan 25
Schael School , yaitu sekolah lima tahun yang menyambung ke MULO ( Meer
Uitgedbreid lager Onderwijs) setara dengan SMP saat ini., 5) menerima
subsidi dari pemerintah Hindia Belanda.
4. Mas Mansyur, lahir Surabaya 25 Juni 1896, pahlawan nasional dan
anggota 4 serangkai dalam pergerakan Nasional Indonesia. Gagasannya, 1)
membentuk majlis diskusi bersama (Tawsir al- Afkar) berdiri karena latar
belang kekolotan masyarakat Surabaya 2) membebaskan tanah air dari
penjajahan, 3) menerbitkan majalah Suara Santri, 4) memperbolehkan bunga
bank.
5. Ki Bagus Hadikoesoemo, lahir Yogjakarta, dengan nama R Hidayat, 24
November 1890, merupakan tokoh kuat patriotik, anggota BPUPKI dan PPKI.
Gagasanya, 1) sangat besar peranannya dalam mukodimah UUD 1945, dengan
memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan,
2) merumuskan pokok-pokok pikiran KH. Ahmad Dahlan yang dijadikan
muqodimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, 3) memperlakukan hukum agama
Islam, 4) menentang penghormatan kepada dewa matahari pada masa
pemerintahan Jepang,
6. Prof. Dr. Amin Rais, lahir di Solo, 26 April 1944, ia politikus yang
pernah menjabat ketua MPR pereode 1999 -2004, seorang yang kritis pada
kebijakan pemerintah, dijuluki “King Maker” dalam jabatan Presiden
Indonesia saat awal reformasi. Gagasanya, 1) mendirikan PAN dan membawa
organisasi ke partai politik, 2) mendukung evaluasi kontrak karya
terhadap PT Freeport Indonesia.
7. Prof. Dr.Ahmad Syafi’i Ma’arif, lahir Sijunjung Sumatera Barat, 31
Mei 1935, tokoh ilmuwan yang mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat,
sikap yang plural, kritis dan bersahaja. Gagasannya tertuang dalam
tulisan-tulisannya seperti dalam buku Dinamika Islam dan Islam Mengapa
Tidak ?
8. Prof. Dr. Din Syamsudin, lahir Sumabawa Besar, Nusatengara Tenggara
Barat, 31 Agustus 1958, politisi yang saat ini masih menjabat sebagai
ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Gagasannya, ia memandang bahwa
terorisme lebih relevan bila dikaitkan dengan isu poliik dibanding
dengan isu idilogi, ia juga tidak senang bila sebagian kelompok umat
Islam menggunakan label Islam dalam melakukan aksi terorisme,
menurutnya, aksi terorisme yang mengatasnamakan Islan akan merugikan
umat Islam baik dalam tingkat internal umat Islam atau pada skala global
9. HAMKA, nama singkatan dari Haji Abdul Malik Karim ‘Amrullah (
Maninjau, Sumatera Barat 16 Februari 1908 – Jakarta, 24 Juli 1981),
tokoh dan pengarang Islam. Putera seorang ulama terkemuka, terkenal
dengan Haji Rasul dan medapat gelar doctor dari Al- Azhar ( 1955),
membawa pembaharuan dalam soal agama di Minangkabau , pendidikan formal
SD tetapi banyak belajar sendiri , terutama dalam bidang agama. Keahlian
dalam Islam diakui oleh Internasional sehingga mendapat gelar
kehormatan dari Al-Azhar tahun 1955 dan Universitas Kebangsaan Malaysia (
1976). Tahun 1924 beliau merantau di pulau Jawa, untuk belajar antara
lain kepada H.O.S. Tjokroaminoto dan aktif dalam organisasi
Muhammadiyah. Karya tulisnya adalah, Di Bawah Lindungan Ka’bah,
Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Merantau ke Deli, Di Dalam Lembah
Kehidupan.
10. H. Abul Karim Oei ( Oei Tjen Hien ), lahir di Padang Panjang, 1905,
mantan anggota parlemen RI dan mendirikan organisasi etnis Tionghoa
Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/ PITI. Mantan
komisaris BCA dan akktif dalam pembauran / asimilasi Gagasannya,
kesadaran harus hidup keluar dari lingkungan etnisnya.
sumber dari https://tonijulianto.wordpress.com/tag/pemikiran-tokoh-tokoh-muhammadiyah/