بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - RAIH MASA DEPANMU BERSAMA STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - TERDEPAN - MODEREN - DAN - ISLAMI, - KALAU ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN SILAKAN DIKIRIMKAN KE KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

PILIH MENU

Senin, 22 Desember 2014

MAKALAH TAQDIR KEPADA ALLAH


MAKALAH TAQDIR KEPADA ALLAH

 
 
BAB I
PENDAHULUAN
Kita tidak  dapat berbuat sesuatu pun juga, kecuali kalau kita hidup, artinya kita mempunyai nyawa dibadan. Nyawa tidak dapat kita adakan sendiri. Jika nyawa hendak melayang, tak dapat dan tak kuasa kita menahannya. Jika ia sudah hilang, tak dapat dan tak kuasa kita mengembalikan atau menggantikannya.
Sebaliknya Allah berkuasa untuk sewaktu-waktu mencabut nyawa kita. Maka jika kita hidup, dan berbuat sesuatu, nyatalah hal itu bergantung kepada kehendak dan takdir Allah semata-mata. Sebab hanya dengan izinnya kita hidup dan bernyawa.
Bukan hanya hidup atau mati saja yang tergantung pada kehendak dan takdir Allah. Kita lahir kedunia pun, tidak memilih ibu, bapak dan tanah air. Padahal sebagian besar nasib dan kehidupan kita tergantung kepada bangsa, golongan dan tempat kelahiran. Keadaan rumah tangga, ibu, bapak, pendidikan, pangkat,derajat, kedudukan bangsa dan tanah air mempengaruhi kedudukan kita dalam pergaulan hidup. Dalam hal itu lepas dari kekuasaan kita tergantung pada kehendak dan takdir Allah belaka.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN TAKDIR DAN LANDASAN HUKUM
Beriman kepada takdir artinya seseorang mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT telah menjadikan segala makhluk dengan kudrat dan iradatnya dan dengan segala hikmahnya. Kewajiban setiap orang Islam untuk mempercayai atau meyakini takdir sebagaimana ia beriman kepada rukun iman yang lain. Iman kepada takdir sering disebut juga dengan iman kepada qada dan qadar. Qada artinya ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang menyangkut makhluknya, seperti bulan mengitari matahari, api membakar, nasib baik dan buruk, manfaat dan malapetaka, sukses dan gagal, sehat dan sakit dan sebagainya. Sedangkan qadar adalah perwujudan dari ketentuan-ketentuan Allah SWT yang telah ada sejak zaman azali.[1]
Beriman kepada takdir bagi setiap orang muslim bukan dimaksudkan untuk menjadikan manusia lemah, fasif, statis atau manusia yang menyerah tanpa usaha. Bahkan dengan beriman kepada takdir mengharuskan manusia untuk bangkit dan berusaha keras demi mencapai takdir yang sesuai dengan kehendak atau yang di inginkan.
Sebagaimana firman Allah di dalam surat Ar-ro’du
ان الله لا يغير ما بقو م حتى يغير وا ما با نفسهممم     ( الرعد : 11)
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum ( masyarakat) sehingga mereka mengubah (dapat) mengubah nasib mereka sendiri.
Manfaat langsung yang dapat dirasakan oleh setiap orang yang beriman kepada takdir diantaranya ialah, mendorong lahirnya niat dan keberanian dalam menegakkan kebenaran, menimbulkan ketenangan jiwa dan pikiran, tidak putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan selalu tawakkal kepada Allah dalam menghadapi segala persoalan hidupnya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al- Qur’an
ما اصا ب من مصيبة فى الارض ولا في انفسكم الا فى كتب من قبل ان نبر اها ان ذلك على الله يسير  ( الحديد: )
Artinya:
Tiada suatu bencana pun yang menimpa dibumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitssssab ( Lauhul Mahfuz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.      ( QS. Al-Hadid :22)
Dalam persoalan mengimani takdir, orang Islam sepakat perlunya meyakini atau mempercayai adanya ketentuan-ketentuan Allah yang berlaku bagi semua makhluk yang ada di alam semesta ini. Namun mereka berbeda dalam memahami dan mempraktekkannya. Ada diantara mereka yang memahami bahwa adanya takdir Allah berarti manusia tidak memiliki kemampuan untuk memilih, segala gerak dan perbuatan yang dilakukan  manusia pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Manusia menurut mereka sama dengan wayang yang digerakkan oleh ki dalang, karena itu manusia tidak mempunyai bagian sama sekali dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Pendapat ini dikeluarkan oleh golongan jabariyah yang dipelopori oleh Jahm bin Safwan.
Pendapat yang lain memahami bahwa manusia mampu mewujudkan tindakan dan perbuatannya. Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia itu, dan mereka menolak segala sesuatu terjadi karena takdir Allah SWT.Paham mereka dalam hal ini sama dengan pendapat Mu’tazilah . Dan golongan mereka disebut dengan aliran Qadaryah yang dipelopori oleh Ma’bad Al- Jauhari dan Ghailan Al- Dimsiki.
1.      Iman kepada taqdir mengandung empat unsur : [2]
a.       Mengimani bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatannya maupun perbuatan para hambanya.
b.      Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “ Lauh Mahfuzh”.
Mengenai dua hal tersebut di atas Allah berfirman dalam Al- Qur’an
الم تعلم ان الله يعلم مافى السماء والارض  ان ذلك فى كتب ان ذلك على الله يسي
Artinya:
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWT mengetahui apa saja yang ada dilangit dan dibumi , bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab ( Lauh Mahfuzh) sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
c.       Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada, kecuali dengan kehendak Allah SWT, baik yang berkaitan dengan perbuatannya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk-makhluknya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an
وربك يخلق ما يشاء ويختا ر
Artinya:
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan apa yang dia pilih.... ( Al- Qashash : 68)
d.      Mengimani bahwa seluruh yang ada, zatnya, sifatnya dan geraknya diciptakan oleh Allah.
Firman Allah dalam Al- Qur’an
الله خا لق كل شيئ وهو على كل شئ وكيل
Artinya:
      Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu. ( Az Zumar : 62)
B.     PEMIKIRAN TOKOH ISLAM TENTANG TAQDIR
Menurut paham Ahlussunnah waljama’ah bahwa beriman kepada qadar Allah hukumnya wajib. Tidak ada suataupun yang mampu mengelak dari kehendak dan kekuasaannya. Tidak terjadi sesuatupun kecuali atas kehendak dan keinginannya.
Pengakuan terhadap al-qadar merupakan salah satu bentuk ketundukan kepada Allah dan pengakuan terhadap kemahaluasan ilmunya yang meliputi segala sesuatu, serta ketentuannya sejak azali atas segala sesuatu dengan hikmahnya. [3]
Sedangkan Mu’tazilah lebih berlebihan lagi dengan  menafikan al- qadr  dalam arti al –ilm dan al-taqdir. Mengenai masalah ini mereka mengatakan bahwa “ semua urusan ditetapkan sekarang” atas dasar bahwa semua perbuatan diciptakan oleh manusia sendiri.
Paham Jabariyah memahami al-qadr secara berlebihan, menurut mereka bahwa al-qadr  mutlak dari Allah dengan menafikan kehendak manusia dalam melakukan perbuatannya. Berbeda dengan paham Jabariyah, Qadariyah menyatakan bahwa semua perbuatan manusia adalah karena kehendaknya sendiri, bebas dari kehendak Allah.
Jika perbedaan itu kita analisa, ada tiga pandangan didalamnya, yakni paham al-qadr ekstrim ( jabariyah) paham al-qadr moderat( ahlussunnah) dan paham al-qadr liberal ( mu’tazilah). Jabariyah menjurus kepada fatalisme dan fasifisme, bahwa manusia tdak bebas berbuat, tapi hanya menerima apa adanya saja. Mu’tazilah lain lagi, memang kalau faham ini dilaksanakan, manusia akan bersipat dinamis dan aktif, namun dampak negatifnya seolah-olah menafikan bahwa didalam tindakan manusia itu ada karya atau campur tangan Allah. Sedangkan Ahlussunnah berusaha menengahi antara kedua paham tersebut, artinya dalam perbuatan manusia ada kerja sama antara Tuhan dan manusia. Manusia tidak akan meneriama apa adanya, tapi juga berusaha untuk mencapai yang terbaik, tanpa harus melupakan keputusan semuanya ditangannya.
C.     PENGARUH TAKDIR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Beberapa ayat Al-Quran al-Karim menjelaskan adanya qadha dan qadar serta pengaruh mutlaknya, dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu "kitab yang nyata". Misalnya:“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam suatu kitab sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS 57 : 22)[4]
Adapun pengaruh takdir dalam kehidupan manusia mencakup dalam dua aspek yaitu ada pengaruh negatif dan pengaruh positif.
Adapun pengaruh positif atau bisa juga dibilang hikmah beriman kepada Takdir adalah : bahwasanya beriman kepada takdir dapat membuat manusia sadar bahwa segala apa yang ada di alam ini berjalan mengikuti ketentuan dan hikmah Allah yang maha bijaksana. Dan jika sekiranya ditimpa sesuatu musibah, dia tidak akan mengeluh dan putus asa,tetapi dia akan tabah dan sabar menghadapinya karena segala sesuatu yang berlaku atas dirinya dan dibumi ini karena sesuatu ketentuan dan hikmah yang telah digariskan oleh Allah SWT sejak dari azali. Dengan begitu,dia tidak akan hilang semangat dan tidak putus asa menghadapi tantangan dalam hidupnya. Dan juga sebaliknya jika dia memperoleh keberhasilan dan kecemerlangan dia tidak akan lupa diri dan angkuh,tetapi akan dihadapi dengan penuh syukur serta memuji Allah yang telah melimpahkan karunianya kepadanya.
Jadi beriman kepada takdir memberikan kepada manusia suatu pegangan batin yang kukuh dan keseimbangan rohani yang stabil, baik pada waktu senang karena suatu keberhasilan , maupun pada waktu ditimpa musibah. Dan dengan beriman kepada takdir, orang-orang mukmin  akan selalu bersikap tawakkal atas segala usaha yang telah dilakukan , sebab dia selalu ingat bahwaorang boleh berusaha atau bekerja dengan segala tenaga dan kuasa yang diberikan Allah padanya,tetapi hasil  dan usahanya tergantung sepenuhnya kepada kehendak dan karunia Allah SWT.
Takdir menurut orang beriman untuk berusaha dan bekerja lalu tawakkal ,dan akhirnya bersyukur kepada Allah atas keberhasilan usahanya atau bersabar atas kegagalan atau musibah yang menimpanya ,inilah bekal dan pegangan hidup yang kukuh dan mulia bagi manusia diatas bumi ini.
  Adapun pengaruh negatif atau kesalahan dalam memahami takdir akan membawa akibat fatal bagi manusia, menyebabkan hidupnya akan tergelincir kedalam akidah dan cara hidup yang salah ,kekeliruan umum terhadap takdir adalah segala sesuatu,baik dan buruk, bahagia dan sengsara,mati dan hidup, dan sebagainya, telah ditetapkan secara pasti oleh Allah, maka manusia ibarat robot atau wayang yang rela menerima apa adanya, dengan kata lain tidak mau berusaha hanya pasrah terhadap takdir atau ketentuan Allah.
Dalam masalah ini ada dua golongan yang tersesat:[5]
Pertama: golongan jabariyah. yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya,tidak punya iradah( kemauan) dan qudrah(kemampuan).
Kedua:golongan qodariyah . yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh kemauan serta kemampuannya, kehendak serta takdir allah tidak ada pengaruhnya sama sekali.
D.    MACAM-MACAM TAKDIR
Taqdir itu bisa dibagi menjadi beberapa bagian :
1.      Takdir dalam Ilmu Allah yang azali
Allah SWT telah mengetahui semua yang bakal terjadi didunia dan akhirat, tiada sesuatu pun yang tersenbunyi bagi Allah, sekalipun hal itu belum terjadi, seperti umur, rejeki, jodoh, untung, baik dan sebagainya. Tak lain tak bukan hanyalah Allah yang menentukan semua itu. Inilah yang dimaksudkan takdir dalam ilmu Allah SWT. Takdir dalam ilmu Allah tersebut tidak akan akan berubah dan tidak bisa diubah oleh siapapun, sehingga disebut juga Qada Mubram atau takdir yang pasti.
2.      Takdir yang tertulis di Lauhul Mahfuz
Takdir yang tertulis di lauhul Mahfuz masih mungkin berubah, karena takdir yang tertulis tersebut ada yang merupakan keputusan final dan ada yang belum. Yang belum meruapakan keputusan final yang disebut Muallaq. Menurut Qurtubi, semua takdir Allah yang ditetapkan di Lauhul Mahfuz itu, jika Allah menghendaki akan dihapus dan ditetapkan sesuai dengan kehendak-Nya. Penghapusan dan penatapan itu sesuai dengan yang ada dalam Ummul Kitab, yakni ilmu Allah yang azali[6].
E.     HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR
Seorang muslim wajib beriman dengan taqdir sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Allah swt dan rasul-Nya di dalam Al-quran dan sunnah Rasul. Memahami taqdir harus secara benar, karena kesalahan memahami taqdir akan melahirkan pemahaman dan sikap yang salah pula dalam menempuh kehidupa di dunia ini[7].
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari beriman kepada taqdir ini, antara lain yaitu:
*      Melahirkan keasaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di dalam semesta ini berjalan sesuai dengan undang-undang, aturan dan hukum yang telah di tetapkan dengan pasti oleh Allah swt. Oleh sebab itu manusia harus mempelajari, memahami, dan mematuhi ketetapan Allah swt tersebut supaya dapat mencapai keberhasilan baik di dunia maupun di akhirat nanti.
*      Mendorong manusia untuk berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan yang baik di dunia dan diakhirat, mengikuti hukum sebab akibat yang telah ditetapkan oleh Allah swt.
*      Mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah swt yang memiliki kekuasaan dan kehendak yang mutlak, di samping memiliki kebijakan, keadilan, dan kasih sayang kepada makhluk-Nya.
*      Menanamkan sikap tawakal dalam diri manusia, karena menyadari bahwa manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan hasilnya diserahkan kepada Allah swt
*      Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena meyakini apa pun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah swt.
BAB III
KESIMPULAN
Agama Islam termasyhur sebagai agama tawakkal mengarah kepada takdir, menerima nasib yang menimpa dengan sabar. Oleh sebab itu, orang mengatakan bahwa ummat Islam menjadi ”fatalistis” artinya menyerah, menerima saja nasib yang menimpanya. Tidak ada kekerasan hati untuk berusaha dengan tenaga sendiri, menolak apa yang tidak disukainya atau berusaha untuk mencapai sesuatu yang diingininya. Untung dan malang adalah takdir Allah.
Sebaliknya begitulah seterusnya fatalisme itu menyebabkan orang Islam menjadi fanatic, menjadi nekat, tak takut mati, berani menyambung nyawa dengan tidak memikirkan bahaya dan bencana yang dihadapi.
Segala kepercayaan tentang kadar dan takdir, yang mewajibkan kita untuk bertawakkal dan sabar timbul , dan berdasarkan atas ajaran tauhid.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Karim
Ahmad Muhammad, Tauhid Ilmu Kalam , Pustaka Setia Bandung. 2002
 Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin,Prinsip-prinsip Dasar Keimanan,, Megatama Sofwa Pressindo,2003
Sori Monang Rkt, an-Nadwi, M.Th, Tauhid Kajian Iman Dalam Agama Islam, Panjiaswaja Press, Medan, 2011.
Quthb Sayyid.Tafsir fi zhalalil Quran, Jakarta:2002 jilid 2