ZARMI SUKSES


web widgets

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - RAIH MASA DEPANMU BERSAMA STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - TERDEPAN - MODEREN - DAN - ISLAMI, - KALAU ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN SILAKAN DIKIRIMKAN KE KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Senin, 25 Mei 2015

Hisab dan Rukyat



Hisab dan Rukyat


Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.
Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Hisab
'Hisab secara harfiah 'perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Dalam Al-Qur'an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Allah memang sengaja menjadikan Matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya Matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.
Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat Matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Rukyat

Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.
Namun, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat. 
Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).
Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.
Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

Rukyatul Hilal
Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:
Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari".

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul Hilal
Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.
Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur'an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra': 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 36-40.

Imkanur Rukyat MABIMS
Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
  • Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
Secara bahasa, Imkanur Rukyat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Secara praktis, Imkanur Rukyat dimaksudkan untuk menjembatani metode rukyat dan metode hisab.Terdapat 3 kemungkinan kondisi.
  • Ketinggian hilal kurang dari 0 derajat. Dipastikan hilal tidak dapat dilihat sehingga malam itu belum masuk bulan baru. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
  • Ketinggian hilal lebih dari 2 derajat. Kemungkinan besar hilal dapat dilihat pada ketinggian ini. Pelaksanaan rukyat kemungkinan besar akan mengkonfirmasi terlihatnya hilal. Sehingga awal bulan baru telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
  • Ketinggian hilal antara 0 sampai 2 derajat. Kemungkinan besar hilal tidak dapat dilihat secara rukyat. Tetapi secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala. Jika ternyata hilal berhasil dilihat ketika rukyat maka awal bulan telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini. Tetapi jika rukyat tidak berhasil melihat hilal maka metode rukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari sehingga malam itu belum masuk awal bulan baru. Dalam kondisi ini rukyat dan hisab mengambil kesimpulan yang berbeda.
Meski demikian ada juga yang berpikir bahwa pada ketinggian kurang dari 2 derajat hilal tidak mungkin dapat dilihat. Sehingga dipastikan ada perbedaan penetapan awal bulan pada kondisi ini.Hal ini terjadi pada penetapan 1 Syawal 1432 H / 2011 M.
Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh Persis
Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.

Rukyat Global
Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya. Prinsip ini antara lain dipakai oleh Hizbut Tahrir Indonesia.

Perbedaan Kriteria
Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.
Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994.Pada tahun 2011 juga terjadi perbedaan yang menarik. Dalam kalender resmi Indonesia sudah tercetak bahwa awal Syawal adalah 30 Agustus 2011. Tetapi sidang isbat memutuskan awal Syawal berubah menjadi 31 Agustus 2011. Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada pendirian semula awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Hal yang sama terjadi pada tahun 2012, dimana awal bulan Ramadhan ditetapkan Muhammadiyah tanggal 20 Juli 2012, sedangkan sidang isbat menentukan awal bulan Ramadhan jatuh pada tanggal 21 Juli 2012. Namun, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hisab_dan_rukyat

KEJADIAN

KEJADIAN


Bermula untuk mengadakan pengenalan kepada Allah swt itu hanya ada tiga jalan, Yang mana ketiga jalan itu harus dilalui satu per satu dengan baik dan istiqomah.
Karena hanya dengan ketiga jalan itulah yang dapat menghantarkan seseorang hamba untuk sampai kepada hakekat pengenalan yang sebenarnya, Sedangkan kendaraannya adalah diri kita.

Ketiga jalan itu adalah sebagai berikut:
1. Mengenal asal muasal kejadian diri, Dari tiada, menjadi ada, dan pada akhirnya kelak kembali kepada ketiadaan.
Allah swt berfirman di dalam Al Qur'an : "Hendaknya kamu (manusia) memikirkan asal muasal dirimu".
2. Mengenal jati diri sejati, siapa sebenarnya diri kita ini (mengenal diri).
Allah swt berfirman dalam hadits qudsy : "Barang siapa mengenal akan dirinya, niscaya ia akan mengenal tuhannya. Dan barang siapa mengenal akan tuhannya maka binasalah ujud dirinya dan tuhan akan ada didalamnya".
3. Mematikan diri. Mati disini bukan mati secara jenazah, akan tetapi mati disini adalah mati dalam artian ma'nawiyah.

Allah swt telah berfirman didalam hadits qudsy : "Rasakanlah mati sebelum engkau mati".
"Barang siapa yang tidak mematikan dirinya, maka tidak akan dia dapat beroleh pengenalan kepadaku".
Demikianlah langkah-langkah yang harus dilalui seorang hamba untuk dapat sampai kepada Allah dan karam bersamanya.
"Aku adalah gudang yang tersembunyi, maka aku suka jika aku dikenal. Lalu aku ciptakan makhluk (manusia) supaya mengenal aku". (hadits qudsy)
Jalan Pertama : Mengenal asal muasal kejadian diri( dari tiada, menjadi ada, dan pada akhirnya kelak kembali kepada ketiadaan).
Sebelum kita mengupas tentang asal muasal kejadian diri itu, satu hal hendaknya yang harus kita ketahui yaitu kita harus memilah antara asal muasal hamba dengan asal muasal insan (manusia).
Sebab dari kedua hal tersebut diatas pengupasannya sedikit berbeda, Kalau hamba itu isinya tanah, air, angin, api.. karena keempat anasir itu adalah sifat (hamba).

Sedangkan insan (manusi) itu isinya waddu, waddi, mani dan manikam.. karena keempat anasir itu adalah sifat insan (manusia).
Begitu pula dengan:
•Sifat hayat, isinya: bulu, kulit, daging, urat, tulang, otak, dan sumsum.
•Sifat ilmu, isinya: pengrasa, hawa, nafsu, akal, pikir, ilmu pengetahuan dan rahasia.
•Sifat tuhan, isinya: zat, sifat, asma, dan af'al.
•Sifat Allah, isinya: iman, islam, tauhid, dan ma'rifat.
•Sifat ta'ala, isinya: tauhidu zat, tauhidu sifat, tauhidu asma, tauhidu af'al.
•Sifat muhammad, isinya: hidup, tahu, berkehendak, dan bergerak.

Adapun asal kejadian insan/ anak adam (manusia) itu sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa kejadiannya dikarenakan berprosesnya kedua orang tua (ibu-bapak kita) didalam melakukan hubungan badan (bersenggama/ bersetubuh).
Saat persetubuhan itu berlangsung, keempat anasir yang merupakan sifat insan (manusia) itupun berproses juga. Dari keempat anasir itu hanya manikamlah yang merupakan cikal-bakal insan.

Dan manikam itu sendiri hanya dimiliki oleh laki-laki, perempuan tidak. Adapun istana manikam itu pada otak laki-laki.
Didalam otak itu ada lemak, didalam lemak itu ada minyak, didalam minyak itu ada nur, didalam nur itu ada nur aqli (akal), dan didalam nur aqli itu ada hijabun nur. Dan didalam hijabun nur itulah manikam.

Masa manikam itu 40 hari, yaitu:
•7 hari pertama manikam itu berada di istananya
•7 hari kemudian manikam itu turun pada tulang belakang dan bertahan pada punggung kita.
•7 hari kemudian berada pada tulang dada.
•7 hari berikutnya berada pada pusat.
•7 hari kemudian turun pada sulbi.
•5 hari kemudian berpindah pada zakar/ kalam (kemaluan laki-laki).

Untuk kemudian jatuh pada rahim seorang perempuan bernama "taraib". Untuk selanjutnya dikandung selama 9 bulan 9 hari.
Ini juga mengisyaratkan tentang 99 nama Allah (Asmaul Husna) dan juga mengisyaratkan tentang perjalanan 99 yang ada.

Dikatakan manikam apabila ia jatuh rahim perempuan, jika tidak jatuh pada rahim perempuan, maka tidak bisa dikatan manikam. Karena manikam inilah yang bernama nur muhammad, atau ruh Idhofi atau syahadat dalam pengertian ilmu.

Adapun rangkaian prosesnya adalah sebagai berikut:
1.Rangkaian tanah asal.
2.Air mani laki-laki.
3.Pencampuran sperma.
4.Segumpal darah.
5.Tulang belulang.
6.Daging pembungkus.
7.Ruh.

Tujuh rangkaian tersebut diatas juga mengisyaratkan tentang:
•7 sifat pada manusia.
•7 anggota dalam sembahyang.
•7 hari dalam seminggu.
•7 bintang yang besar.
•7 lautan yang besar.
•7 lapis langit.
•7 lapis bumi.
•7 neraka.
•7 syurga.

Dan banyak lagi yang menyatakan jumlah ataupun hitungan 7 itu.
Tatkala manikam itu sampai 4o hari lamanya didalam tara'ib perempuan, maka berhentilah darah haid yang biasa dialami oleh seorang perempuan. Hal ini dikarenakan sebab tertutupnya peranakan oleh manikam tadi.
Baru setelah 4 bulan manikam itu berada didalam rahim, ia bernyawa (bergerak).
Darah haid yang berhenti karena tertutup oleh manikam, pada bulan kelima menjadi tembuni (ari-ari). Peristiwa ini seluruhnya berlangsung didalam rahim.
Dan tatkala sampai pada masanya lahir, maka darah haid yang berhenti pada 40 hari sebelum manikam itu bernyawa (bergerak) itulah yang akan menjadi darah nifas.

Manikam yang dikandung oleh perempuan pada masa:
1 hari 1 malam : pujinya Hu
3 hari 3 malam: pujinya Allah
7 hari 7 malam: pujinya Innallah
40 hari 40 malam: pujinya Turobbunnur
4 bulan 4 hari: pujinya Subhanallah
6 bulan 6 hari: pujinya Alhamdulillah
8 bulan 8 hari: pujinya Allahu Akbar
9 bulan 9 hari: pujinya Inna ana amanna
INNA: Sessungguhnya
ANA: Saya (Aku)
AMANNA: (aman (Iman)

Inilah asal kejadian "AIR ZATULLAHU AKBAR". Beberapa dasar yang melandasi tentang asal muasal kejadian diri:
1.Abdullah Ibnu Abbas Ra dari Nabi Saw : "Bahwa sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan dahulu daripada segala sesuatu yaitu Nur nabimu".
2.Syech Abdul wahab As -Syarani Ra berkata : "Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan Ruh Nabi Muhammad itu daripada zatnya dan dijadikannya ruh sekalian alam dari pada nur Muhammad saw".
3.Nabi Muhammad Saw bersabda : "Aku bapak dari sekalian ruh dan adam itu bapak dari sekalian batang tubuh". Adapun lembaga Adam itu dijadikan oleh Allah Swt daripada tanah.
4.Allah ta'ala berfirman didalam Al Qur'an : " Aku jadikan insan Adam itu dari pada tanah, dan tanah itu dari pada air, dan air itu dari pada angin, dan angin itu dari pada api dan api itu dari pada nur Muhammad".
"Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah ta'ala yaitu: nur".

Dan kepada Nur itulah perhentian perjalanan segala aulia dan ambiya yang mursalin mengenal Allah ta'ala. Akan tetapi bila sudah sampai kepada nur, maka fanakanlah nur itu pada zat yang wajibul wujud, supaya jangan sampai hamba itu semata-mata bertuhan kepada nur. Akan tetapi hendaklah tetap bertuhankan kepada Allah zat wajibul wujud. Dengan begitu maka nyata nur itu hanya wasilah kita untuk dapat sampai kepada Allah ta'ala.

"Hai orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) yang bisa menyampaikan kamu kepadanya dan hendaklah kamu bersungguh-sungguh dijalnnya, supaya kamu dapat kejayaan". (Al Qur'an)

Hal lain yang tak kalah pentingnya didalam pengenalan asal-muasal kejadian diri adalah anasir-anasir yang ada pada dirimu, Baik anasir dari Muhammad, dari bapak, dari ibu, sebagai berikut:
1.Anasir tuhan pada muhammad meliputi: sir, budi, cinta dan rasa atau penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengrasa.
2.Anasir tuhan pada bapak meliputi: urat, tulang, otak dan sumsum.
3.Anasir tuhan pada ibu meliputi: rambut(bulu), kulit, darah, dan daging. Satu anasir dari tuhan yaitu hayat (nyawa).

JABARUT = peringkat dibawah Lahut dan
diatas Malakut
KHATRAT = bisikan hati dari Alam Ghaib
KERAMAT = perbuatan luar biasa oleh wali Allah
KHIDR = namanya ialah Baliya Ibn Mulkan yang telah meminum Air Kehidupan
KALAM – i – ZATI = Kalam Zat tanpa perkataan & bunyi
KALAM – i – TAFSILI = kata kata dalam perkataan = Kalam – i- Lazfi

PENTAJALLIAN MANUSIA ITU MELALUI TUJUH ALAM:
Tajallinya BENIH yaitu Mani Setitik
Maka Terciptalah Manusia Yang Lengkap ( Akbar ) Dikandung oleh Mani itu ( ain Sabitah ) ialah WUJUD tetapi belum nyata wujudnya – umpama Dalam biji sawit lengkaplah segala-galanya yaitu akarnya, batangnya, pelepah, bunga, tandan buah malah biji biji sekali..
Berarti Wujud Jasad ( Jasmani ) & Wujud Ruh ( Ruhani ) Melalui Tujuh ( 7 ) Alam atau Mertabat Pentajallian.
Dalam Ilmu Hakikat ini dirujuk sebagai MERTABAT TUJUH:
ALAM LAHUT : Dimana Wujud Zat sedia-dianya. Belum ada satu pun wujud yang lain.
ALAM JABARUT : Ditajallikan Muhammad Mustaffa ( Hakikat Muhammad ) yaitu Sifat Zat Yang Agung melalui NURZAT melalui ILMUNYA yang SIRR / RAHASIA oleh KUDRATNYA disebabkan IRADATNYA.
Apabila Tajalli SifatNya Muhammad Mustaffa, maka dipancarkanNyalah HAYATNYA maka hiduplah Muhammad didalam Wahdaniat pada SifatNya yaitu MENGESAKAN ZAT yang menjadikanNya.
Muhammad dikatakan Mustaffa yaitu yatim piatu karna ianya tiada diperanakkan atau beranak. Asma atau namaNya ialah Allah.
ALAM MALAKUT : Muhammad Mustafa pula mentajallikan malaikat melalui NurNya Nur Muhammad. Satelah terciptanya Malaikat, oleh kerana asyiknya Muhammad kepada ZatNya, Muhammad telah menyatakan kepada malaikat bahwa ianya bernama Allah yaitu Tuhan Sekalian Alam.
Maka malaikat pun mengenali Allah melalui Sifat 20 di-Alam Malakut dan kenallah malaikat akan dirinya bahwa ianya adalah sifat kepada Sifat Zat Yang Agung, Muhammad Mustaffa.
ALAM RUH : Penciptaan Dunia, Allah telah memerentahkan malaikat Jibrael, Izrael, Mikael & Israfil untuk mencipta dunia ini.
Izrael mencipta bumi dan kehidupan
Jibrael mencipta langit dan lautan
Mikael mencipta bulan dan matahari
Israfil mencipta angin dan udara
Setelah terciptanya dunia, barulah Allah menciptakan manusia untuk dijadikan Khalifah didunia . Manusia diciptakan oleh Allah atas permintaan Muhammad. Malaikat dijadikan panduan menzahirkan rupa manusia :
Jibrael sebagai cermin
Mikail sebagai rupa
Israfil menghantar ruh
Izrail sempurnakan sifat

Maka wujudlah manusia yang lengkap dengan segala sifat malaikat dikenali sebagai RUH. Ianya dikenali sebagai MANUSIA AWAL.
Yang demikian malaikat ialah kembar manusia dan manusia itu sesifat malaikat.
Dialam ruh manusia ujud tetapi belum kelihatan oleh pandangan kerana belum diberi jasad.
Setelah Ruh Manusia diwujudkan dari sifat malaikat, Zat memperkenalkan diriNya melalui SifatNya Muhammad Mustaffa sebagai Tuhan Manusia & Tuhan Semesta Alam bernama Allah.
Maka Ruh Manusia pun mengenali akan Tuhannya yaitu Zat Mutlak melalui SifatNya Yang Agung Nur Muhammad bernama Allah
Ruh Manusia juga mengenali dirinya yaitu:
Dirinya sesifat malaikat. Malaikat sesifat Muhammad Mustaffa / Nur Muhammad. Muhammad Mustaffa pula ialah Sifat Zat Mutlak Yang Agung ditajalikan melalui NURZAT. Zat pula meliputi (SE) SifatNya yaitu Muhammad Mustaffa. Sifat Zat pula ialah Zat Mutlak itu sandiri.
Ruh memohon agar Allah memberikan DUNIA untuk ditadbirnya sebagai khalifah. Tuhan menunaikan permintaan dengan memberikan Jasad dan alam semesta untuk didiami dan ditadbir oleh ruh manusia (Jasad = Alam Saghir / Kecil Alam Semesta = Alam Kabir / Alam Maya.

Sebelum ruh manusia diberikan Jasad dan Dunia, Allah telah meminta mereka membuat Perjanjian dan Pengakuan seperti berikut:
- Ruh berikrar dan mengaku bahwa Zat Mutlak yakni Allah-lah Tuhan Semesta Alam dan mereka ( ruh & alam ) adalah HAMBA.
- Sebagai hamba mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan yang lain. Yang Wujud Hanya Allah.
- Akan tetap mengenali Asal Usul Dirinya dan mengembalikan Hak Allah yang diberikan kepadanya yaitu jasad & ruh dengan sempurna ( tidak akan memisahkan ruh & jasad atau SE-kan dirinya )
- Akan menjadi CERMIN BERGILAP bagi Allah dan menjaga RAHASIA dan AMANAH ALLAH serta mengembalikan rahasia dan amanah itu kepada Allah bila tiba masanya.
- Menjalankan SYIAR ALLAH
Allah pula berjanji :
- Ruh akan diberi Jasad sesifat dirinya ( ruh )
- Urusan kehidupan ruh didunia adalah semata-mata urusan Allah dan perbuatan manusia adalah Af’al Allah semata-mata. Lalu adakah pelajaran yg dapat diambil dari postingan ini,?
(Tuak ilahi)

HAKIKAT AKU

DARI AKU UNTUK AKU KEMBALI KE AKU


AKU adalah titik atau noktah awal perjalananku menuju ke titik akhir yaitu AKU jua.
----------------------
Titik awal itu nyata dengan sifatnya dan titik akhir ghaib dengan ZatNya, Namun itu semua adalah AKU jua, Ianya ibarat menghasta kain sarung dari situ kesitulah jua akhirnya
----------------------
Namun ia tetap ada perbedaannya, Oleh itu kita haruslah tahu apakah perbedaan nya dan permulaannya kalau awalnya dari tidak ada menjadi ada, Manakala diakhirnya dari ada menjadi tidak ada.
----------------------
Titik itu membawa makna pada pengertian adalah AKU yaitu Ketuhananku dan Ketuhanan itu adalah Rahasia Hidup yang di anugerahkan Tuhan kepada Mu.
----------------------
Oleh itu setiap sesuatu itu bermula atau bergerak dari titik atau noktah awalnya. Titik, ini adalah suatu daya kuasa atau daya hidup yang mengaliri didalam batang tubuh, ianya menerima dan memberi daya-daya hidup dan menjaga kestabilan keadaan badan diri ini.
----------------------
Tampanya badan tidak akan hidup, untuk kau tahu itulah kau yang sebenarnya, Bertitik dari Zatullah dan bergerak dengan daya Qudaratullah.
----------------------
itulah semula jadi dari tuhan, Dari titik ia berkembang-berkembang lantas menjadi diri didalam badan setelah itu titik yang awal tu lenyaplah dan kini hanya yang nyata adalah diriku pula.
----------------------
namun AKU ( titik ) tetap ada tetapi aku berada ditempat tiada ada, menjadi
sumber dan tenaga serta aku kini menjadi Aliran Qudratullah pada badan.
----------------------
Perkembangan titik ini telah menjadikan suatu NUR yang memancar membentuk diri didalam badan, dan diri inilah tenaga atau stroom bagi badan dan kalau kita perhatikan darimanakah datang nya atau asal di balik asal tenaga itu?.......
----------------------
Baiklah kalau DIRI ( tenaga ) maka dari manakah tenaga itu datang? Tidakkah dari induk awal itu yaitu titik ( AKU) ?.
----------------------
Sesungguhnya jalan ini adalah mengenal
diri yang sebenar diri dan ianya adalah AKU yaitu titik awal dari Tuhan.
----------------------
Oleh itu dalam mencari kebenaran Ilmu Allah ini terlebih dahulu engkau perlu masuk kedalam atau engkau perlu melalui JALAN DALAM supaya dengan jalan inilah kau akan tahu manakah titik awal dan kemanakah berakhirnya titik itu.
----------------------
Nah!!!! perhatikanlah itu, dan sesungguhnya titik akhir dan titik awal itu adalah sama jua, ianya adalah AKU yang pasti disebalik titik itu tiada apa-apa lagi kecuali kekosongan
jua.
----------------------
Maka yang kosong itulah ZAT, Disini bukanlah zat itu kosong maksud kosong
itu adalah tidak ada pada kenyataan namun ia ada dibalik kenyataan karna
tanpa nya mana mungkin titik itu akan wujud.
----------------------
Maknanya setiap sesuatu itu ada
permulaannya akan tetapi tuhan tidak ada permulaan dan tiada kesudahannya.
----------------------
Dan lagi bahwa titik itu mempunyai daya dan kekuatan Azali karna titik itulah
Qudratullah, Hayatullah dan ia menjadi RahasiaKU .
----------------------
Maka berpeganglah pada AKU itu, Segala sesuatu itu datang nya dari AKU dan AKU datang dari Tuhan.
----------------------
AKU yang tiada wasithah (perantara) datang langsung dari Tuhan akan tetapi sesuatu yang ada pada badan ini sama ada yang nyata atau yang akan dinyatakan ianya tetap bermula dariKU karna AKUlah yang mengadakan sesuatu untuk sesuatu dari sesuatu menuju ke sesuatu.
----------------------
Perhubungan dan kesedaran yang mendalam serta penyerahan yang total kepada Tuhan sehingga sesuatu itu tidak ada melainkan DIA atau AKU semata-mata, maka rahasia nya adalah proses semula jadi akan berlaku secara automatik dan dengan kekuatan proses
itulah mendatangkan gerak-gerak tertentu.
---------------------
Ianya bermula dari titik yang dinamakan TITIK AKAL, kemudian ia akan di transferkan kepada TITIK DAYA kuasa yaitu KUDRAT maka proses akan terjadi GERAK mulai berlaku.
----------------------
Disini aku menyebut titik akal sesungguhnya titik akal itu berasal dari titik awal jua yaitu (AKU).
----------------------
Tempatkanlah AKU itu pada tempatnya antara badan, diri dan AKU serta
tuhan bolehlah di ibaratkan umpama gula, manis, rasa dan nikmat itu lah ibaratnya.
----------------------
Berbalik kepada hal titik itu tadi......... ketahuilah titik awal itu namanya ROHULLAH (KETUHANAN) dan dari titik itulah nyatanya DIRI (RUHANI) dari rohani inilah RASA mula terasa pada badan namun kesemuanya ini bergerak serentak bukan bergerak berasing asingan dia umpama lampu dan suis apabila suis dibuka lampu terus
Menyala.
----------------------
Itulah rahasianya, Ingat-ingatlah TUHAN dan AKU ( titik ) itu jauhnya tiada antara
dekatnya tiada berbatas........Pandanglah ia dengan RASA bukan dengan MATA.
----------------------
Ianya ada tetapi tidak ada, nyata pada engkau bila engkau tidak ada maka nyatalah ia.
----------------------
Adakanlah PENGAKUANmu pada Tuhanmu, BADAN yang kau terima itu untuk kau guna menyatakan pengakuan dan mengadakan bakti KEHAMBAANMU
itu.
----------------------
Dari titik sampai ke titik jua dan dibalik titik itulah rahasia tak terungkap
oleh makhluk karna ianya adalah ZATULLAH
----------------------
Ketahuilah olehmu bahawasa nya selagi kau merasa dan memandang akan adanya ujudmu itu pada keadaan ini maka kau belum lagi sampai kepada penyatuan yang sejati,,,,,,,
----------------------
Penyatuan ini bukanlah bererti kita dan Tuhan bersatu pada tempat yang sama karna mana mungkin dua hal yang berbeda menduduki pada tempat yang sama .. ini tidak mungkin terjadi dan tak akan terjadi.
----------------------
Akan tetapi penyatuan yang dimaksudkan ini adalah ia (insan) itu memandang akan segala yang ujud ini adalah kenyataan bekas dari azali yaitu Tuhan, ke-akuan diri pada menyatakan kewujudan Tuhan secara menyeluruh inilah yang di kehendaki, Oleh itu kita haruslah memahami nya dalam arti kata yang sebenarnya.
---------------------
Penampakan atau kezahiran pada barang yang ujud zahir mahupun ujud batin itu adalah semuanya itu dalil dan ia sememangnya Kenyataan Tuhan pada Sifat Az-zhohiru (yang zahir) karna ujud itu hanyalah satu jua pada nisbah wujud yaitu ZATULLAH, Maka yang lain itu adalah kenyataan wujudnya.
----------------------
Penyatuan yang aku maukan ini adalah penyatuan yang hakiki bukan bersatu aku dan Tuhan
----------------------
Itu dengan makna kita dan Tuhan berada pada satu tempat akan tetapi ia membawa makna bahwa Tuhan itulah yang wujud dan aku ini ganti nama bagi Sifat Kewujudan nya.
----------------------
AKU adalah Esa dari Ke-esaan Tuhan, ia dinamakan Sifat yang ternyata dari alam zat. Setelah nyata nya AKU maka Zat itu telah ghaib didalam sirrku. Kini yang dilihat dan dirasa itu adalah Sifat Kenyataan Zat-Ku.
----------------------
Oleh itu kalau engkau selidiki maka tidak lah ada percampuran didalam hal penyatuan ini.
----------------------
Esaku menyatakan Tuhan umpama bayangan pada cermin......mana mungkin bayang atau gambaran didalam cermin itu menjadi dua kalau yang diluarnya satu objek saja.
----------------------
Ini bermakna ianya satu diluar dan menunjukan satu itu pula adalah didalam cermin itu, maka tiada dua lah ia melainkan satu jua.
----------------------
Perjalananku melakukan penyatuan dengan mengadakan Pengakuan dan Penyaksian yang hakiki pada hakikat ku sendiri yaitu Tuhan.
----------------------
Hadrat ilahi lah yang meleburkan ke-akuanku pada fahamanku yang mengatakan aku ini ada dan aku ini lain nya dan apabila hampirnya aku pada maqamku yaitu Ketuhananku maka aku yang dulunya ada engkau telah menjadi tiada karna bersatunya AKU dan tuhanku.
----------------------
Maka disitu TIADA LAGI SIFAT melainkan ZAT semata-mata ini dapat ku tahu apabila aku merasai aku hilang perasaanku pada keadaanku sendiri.
----------------------
fahamkanlah ini bukan aku mengaku aku ini Tuhan akan tetapi aku mengatakan aku ini ujud yang menyatakan ujudnya Allah, tanpa aku dia (Allah) tidak akan Nampak wujudNYA nya karna AKUlah yang menyatakan nya.
----------------------
SYUHUDUL HAQ FIL HAQ, Memandang Yang Esa pada Ke-esaan, yakni Nur kepada Zat. Kalam Hakikat berkata
----------------------
AKU adalah ZAT menyatakan akan KetuhananKu melalui Penyataan atau Pentajallian Sifat dan Af'alku pada Kezahiran Ujud Malakut. Hal ini membawa maksud kepada faham Hakikat Wahdatul Ujud.
----------------------
(wujud yg satu )... Huraian nya :
----------------------
Asal mula hidup ini adalah Zatul Haq jua adanya dan ia adalah puncak segala-galanya pada engkau ini.
----------------------
Kemudian Zat pada masa itu adalah pada martabat AHDAH lalu ia menyatakan akan TajaliNya yang pertama yaitu Nurullah ( AKU) dan apabila Nurullah itu nyata maka Zatul Haq lenyap dari kenyataan dan ia menjadi Rahasia bagi Nurullah.
----------------------
Pada martabat ini ia menyatakan Syahadatnya (la ilaha illa ana)
----------------------
Kemudian Penyataan dari Nurullah itu maka terbitlah Nur Tajalli Sifat yaitu Nur Muhammad Abu Arwah. Disinilah bermulanya Era Ketuhanan dan Kehambaan apabila Nurullah berkata Alastu birabbikum dan Nur Muhammad menjawab qoolu bala syahidna ya rabbi... adakah aku ini Tuhanmu, ya bahkan engkaulah Tuhanku.
----------------------
Selepas daripada itu Alam Taqdir bermula bagi menyatakan Zamani Makhluk pula, yaitu penciptaan jasad dan seterusnya. Maka disini aku tidaklah mau menghuraikan secara detail akan tetapi cukup sekadar renungan saja...
----------------------
Kesimpulanya :
----------------------
Asalku adalah Zat menyatakan akan Sifat ( Ketuhananku ) pada keadaanku dan menyatakan Af'alku pada Kebesaranku, dan aku kembali kepada Zat jua. Kalau ku diam maka Kenyataan Af'alku tiada. Kalau ku bertukar Alam Kenyataan Sifatku tiada, tetapi kini aku berbadan makanya AKU bersifat dan ber-af'al....... itulah AKU.
----------------------
Zat = diri
Allah = nama bagi zat
Aku = ketuhanan (sifat)
Diriku = nur penyataan (muhammad)
Badan = bekas (adam)
----------------------
Dan kini aku diluar bernama insan dan dialam Ketuhanan disebalik itu akulah. LALU adakah postingan ini membawa manfaat buatmu,?
----------------------
(Tuak ilahi)