ZARMI SUKSES


web widgets

SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - RAIH MASA DEPANMU BERSAMA STIKOM MUHAMMADIYAH BATAM - TERDEPAN - MODEREN - DAN - ISLAMI, - KALAU ADA KRITIKAN YANG MEMBANGUN SILAKAN DIKIRIMKAN KE KAMI - DAN TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Minggu, 15 Februari 2015

TANYA JAWAB KANDUNGAN AL-QUR'AN OELEH ANAK MUDA DENGAN AKI




TANYA JAWAB KANDUNGAN AL-QUR'AN OELEH ANAK MUDA DENGAN AKI



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.

Suatu hari terjadi dialog antara seorang sufi muda dengan seorang sesepuh, yang anaknya telah terpengaruh dari Sang sufi Muda tersebut.
Aki: Nak, saya dengar anak muda mengajar ilmu hakekat kepada putra saya.
Sufi majnun: Betul ki.
Aki: Tolong jelaskan kepada saya, sebab putra saya sekarang bicaranya selalu tentang hakekat saja.
Sufi majnun: Apa yang harus saya jelaskan kepada aki?
Aki: Ya. Saya sudah kenyang berguru di banyak pesantren besar, tapi sampai saat ini saya belum bisa menyelesaikan ilmu syareat yang saya pelajari. Coba anak muda renungkan kembali ajaran yang disampaikan kepada putra saya tentang hakehat. Saya sudah berumur tua saja belum menyelesaikan syareat yang saya tahu begitu banyak. Bagaimana mungkin anda anak muda bicara tentang hakekat kepada putra saya yang nyatanya saja lebih tua dari anda. Nanti saja kalau anak muda sudah menyelesaikan semua syaerat lengkap barulah anak muda bicara tentang hakekat. Itu masih jauh anak muda. Apa sih sekarang yang anak muda ketahui tentang Hakekat itu?
Sufi majnun: Betul ki, saya masih muda jauh lebih muda dari putra aki, apalagi dibandingkan umur aki. Rupanya methode yang kita pelajari jauh berbeda dan apa yang kita caripun berbeda.
Aki: Maksud anak muda? Ajaran Islam kan methodenya hanya dua saja, yaitu Al Quran dan Al Hadist. Yang lain bagi saya hanya hanya embel-embel.
Sufi majnun: Bolehkah saya bertanya?
Aki: Silahkan saja, asal masuk akal.
Sufi majnun: Betul. Harus memakai akal. Islam, sekali lagi, Islam adalah ilmiah dan masuk akal, Tidak wajib beragama bagi yang tidak berakal. Sebagai awalannya, harus ada keselarasan antara ayat yang kita telusuri dan akal sehat. Sudahkah aki membuktikan surat An Nuur ayat 35?
Aki: Belum.
Sufi majnun: Sudahkan aki membuktikan surat Ar Rahman ayat 17?
Ai: Belum.
Sufi majnun: Methode kita yang berbeda. Aki mencari surga sedangkan saya mencari Pemilik surga atau saya sebut "Inna lillahi wa ina lillahi roji'un" - Asal (dari) Allah kembali (ke) Allah. Kenapa kata dari dan ke saya beri tanda kurung, Sebab Tuhan yang Maha Tinggi Yang Maha Meliputi, Ada "dimana-mana". jika saya memakai kata "dari" dan "ke" menjadikan seolah Tuhan Yang Maha Meliputi menjadi "terikat" dengan di satu arah dan tempat.
Sufi majnun: saya ingin menceritakan kisah Nabi Adam, Nabi Adam yang lebih mulia dari kita gagal bersaing dengan iblis dan terusir dari surga karena Iblis ternyata lebih licin. Nabi adam terusir dari surga tetapi iblis masih berada disurga sampai saat ini. Iblis memohon kepada Allah agar diberikan tangguh dan Allah mengabulkannya. Silahkan aki baca surah Al A'raff ayat 14-17, Al Hijr ayat 36-38, Shaad ayat 79-80. Jadi kalau aki mencari surga karena masih ingin melihat sungai-sungai yang mengalir dibawahnya gunung-gunung yang hijau masih mengharapkan bidadari cantik, aki masih mendambakan nafsu.
Bagaimana mungkin aki mencari Allah, ujudnya saja aki tidak tahu karena aki tidak paham marifatullah, apalagi hakekatNya. Aki hanya paham sebatas dongeng yang aki terima sejak kanak-kanak dan disimpan serta diyakini sampai sekarang tanpa diolah, dikaji dan diselaraskan dengan nalar yang berkembang sejalan dengan bertambahnya ilmu, kecerdasan dan umur.
Mudah-mudahan aki paham apa yang difirmankan Allah dalam surah Al Waaqi'ah ayat 7 sampai dengan ayat 10. Saya tidak ingin masuk golongan kanan dari tiga golongan tersebut, karena saya tidak ingin kembali ber"gaul" dengan nafsu rendah lagi dengan masih mengharapkan pemuasan nafsu syahwat di "Surga" bersama bidadari-bidadari, bukankah masih ada satu golongan lain lagi yang lebih mulia?, yaitu golongan mereka yang tulus dan ikhlas, golongan yang menyembah Allah bukan karena pamrih mengharap "hadiah" yang dijanjikanNya.
Sufi majnun: Betulkah aki sudah berumur sekitar 75 tahun?
Aki: ...?
Sufi majnun: Saya hitung-hitung aki sudah dapat bonus sekitar 10 tahun dari rata-rata umur orang Indonesia yang hanya sekitar 65 tahun secara statistik. Bolehkan saya bertanya lagi?
Aki: Silahkan??!!
Sufi majnun: Saya mengajarkan kepada ikhsan-ikhsan tentang syareat dari bawah dan bersamaan juga mengajarkan hakekat dari atas kebawah. Jadi bertemu ditengah-tengah, sehingga mereka memahami dzat dan benda, juga hal-hal lain yang sebenarnya sama yang dibicarakan dengan bahasa yang berbeda dalam syareat hingga hakekat. Dan syareat tarekat pun menjadi cepat selesai karena sudah ada keselarasan pemahaman tentang apa yang dibicarakan. Sudahkan aki membuktikan bintang yang (cahayanya) menembus pada surat Ath Thaariq :6, bintang pada langit terdekat pada surat Ash Shaafaat ayat 6?
Aki: belum.
Sufi majnun: Betulkkah syareat artinya syarat-syarat? Kalau diistilahkan seolah memasak didapur aki di syareat hanya mengumpulkan informasi syarat-syaratnya saja bahwa untuk memasak syaratnya diperlukan adanya benda-benda seperti kompor atau api, panci dll.
Lalu tarekatnya, untuk jalannya aki harus pergi kepasar, berbelanja, membersihkan dan memotong bahan-bahan yang akan dimasak, mengulek bumbu-bumbuan dll apapun yang perlu dikerjakan sebagai cara memasak yang sehat dan benar.
Barulah ma'rifatnya semua bahan dasar dan bumbu-bumbu dimasak dan dicampur/bertemu/bersatu dalam satu wajan atau panci.
Selesai dimasak barulah aki bisa merasakannya, mendapatkan hakekatnya "Oh rasanya sayur asem itu seperti ini rupanya". Disinilah akal sementara kita lepaskan sebagaimana juga malaikat Jibril terpaksa harus ditinggalkan oleh Nabi, di "puncak" hakekat hanya manusia yang madani yang bisa menyelesaikan hal ini.
Disini, ikhsan sudah paham dan mengerti apa yang diperTuhankan sehingga syahadatnya sah, bukan mereka-reka dan mengira-ngira saja jadi bukan sumpah palsu seperti selama ini aki ucapkan. Apakah aki anggap nabi Muhammad tidak bisa membedakan kata "bersaksi" dengan "percaya". Nabi kercerdasannya tinggi dibandingkan manusia sepert kita ini.
Hari ini dalam usia senja aki belum menyelesaikan ilmu syareat yang sangat banyak tidak ada habisnya dan menyita waktu. Aki masih sibuk mengumpulkan syarat-syarat, kapan pak kiai akan mulai "masak", kapan aki akan mulai menunaikan ma'rifat sampai ke hakekat?
Mengapa aki tidak memilih jalan yang pendek dan tepat tapi banyak manfaatnya dan cepat sampainya? Masih sempatkah aki membuktikan ayat-ayat yang saya sebutkan tadi sebelum ajal? Tanyakan kepada putra aki pengandaian saya ini "Apakah seorang yg sibuk dengan dirinya sendiri akan bertemu dengan seorang presiden? Dia sibuk dengan dirinya dan tidak mau mengenal dan mau berusaha untuk bisa mendekat dan berjumpa kepada bapak presiden untuk dipertemukan dengannya ?" Tentunya org yg sibuk itu hanya akan menjadi tertawaan yang lain. Apalagi Allah, Yang Maha Tinggi tentu Dia tidak mau menemui mahluk yang belum mengenalNYA sebelumnya, apalagi jika orang itu gemar menista orang lain walaupun pemahamannya sendiri masih hanya tebak dan terka tanpa pembuktian. Apa yang akan ditanyakan Allah kepada mahluk seperti itu? Tentang "pertemuannya dengan Allah"? jelas tidak akan paham. Tentang bukit Tursinanya? Tentang gua Kahfi atau gua Hiranya? Tentang surga dan nerakanya? jawaban yang akan diberikan tentu hanya sekedar "Katanya, yang saya dengar dari kata dan dongeng anak-anak sejak saya kecil yang demikian itu seperti ini dan itu". Semua serba katanya. Saya tidak mau tebak dan terka seperti itu, Islam adalah agama akal dan ilmiah.
Nb : Jika Tidak mempelajari ilmu tasawwuf berma'rifatullah, apa bisa menjawab pertanyaan malaikat, siapa Tuhanmu ??
Kalau kalian menjawab "ya.. Pasti "ALLAH"..!!
Anak kecilpun bisa menjawabnya
dengan mudah kalau begitu, namun tentu saja malaikat dan Allah tidak ingin jawaban seperti anak kecil.
(Arrya Sufi)

PESAN AL-QURAN KEPADA GENERASI MUDA


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.



Syubbanul yaum rijaalul ghadi (pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan), begitulah ungkapan arab yg menunjukkan bahwa betapa pentingnya generasi muda untuk menghadapi masa depan kehidupan ini. Pemuda adalah tumpuan harapan bagi kehidupan masa depan yg lebih baik dan anggun. Untuk itu pemuda merupakan cermin yg seharusnya tidak boleh retak, karena baik buruknya masa depan sangat tergantung padanya. Untuk membentuk pribadi generasi muda yg unggul, diperlukan sosok generasi tua yg mampu membimbing dan mengarahkan dengan baik tentunya. Nah..dalam Al-Quran sebagai rujukan pertama dan utama bagi kita,telah digambarkan pula bagaimana peran generasi tua dalam mempersiapkan generasi muda yg tangguh melalui sosok Luqmanul Hakim.
Allah telah berfirman dalam surat Luqman ayat 13:

Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada puteranya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya. “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah merupakan kedzaliman yg besar.”

Pada ayat di atas ditunjukkan bahwa nilai paling fundamental yg harus ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya(generasi muda) adalah tauhid atau aqidah, dimana anak harus dibimbing untuk mengenal Tuhannya,yaitu Allah SWT, agar ia tidak ber-tuhan kepada tuhan-tuhan semu yg bisa menyesatkannya.
Selain ayat di atas, Ali bin Hasan al-Athas dalam bukunya Luqmanul Hakim wa hikaamuhu mencoba menjabarkan apa-apa yg telah dijabarkan dalam Al-Quran tersebut yg ia rangkum menjadi beberapa hikmah Luqmanul Hakim yg baik untuk dijadikan acuan para generasi tua untuk mendidik generasi muda, diantara hikmah-hikmah tersebut adalah sebagai berikut:

“ Wahai anakku tidaklah berakal orang yg tidak mempunyai kesucian, tidak berprikemanusiaan orang yg tidak berkata benar, tidak dapat dipercaya orang yg tidak dapat menyimpan rahasianya, tidak berharta orang yg tidak mempunyai belas kasih, tidak ada kekayaan yg lebih bermanfaat daripada ilmu pengetahuan, tidak ada kemuliaan yg lebih tinggi daripada taqwa, tidak ada bangkai yg lebih busuk daripada barang haram, tidak ada kejelekan yg paling jelek kecuali dusta.. barang siapa yg mau melihat cacat diri sendiri, niscaya ia terhindar dari melihat cacat orang lain, barang siapa yg menyembunyikan kesalahannya sendiri niscaya ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain.”
Ali bin Hasan al-athas juga memaparkan sebuah riwayat yg cukup baik untuk dijadikan pegangan hidup bagi umat manusia, yakni riwayat dari Khalid Ar-Ruba’i. Dalam riwayat tersebut dikisahkan bahwa suatu ketika tuan(majikan) dari Luqmanul Hakim (sebagaimana kita ketahui Luqman sebelumnya adalah hamba sahaya/budak) memberi seekor kambing dan berkata “sembelihlah kambing ini dan berikan padaku dua potong kambing yg paling baik”. Lalu Luqman memberikan pada tuannya daging lidah dan hati. Kemudian tuannya menyerahkan lagi kambing lain dan berkata, “sembelihalah kambing ini dan ambilkan dua potong daging yg paling buruk”. Lalu Luqman memberikan lagi dua daging yg sama, yakni lidah dan hati. Kemudian tuannya bertanya tentang rahasia dua daging tersebut, dan Luqman pun menjawab “tidak ada sesuatu yg lebih baik daripada kedua-duanya apabila kedua-duanya itu baik, dan tidak ada yg lebih buruk dari kedua-duanya apabila kedua-duanya itu buruk.”
Dari kisah ini dapat disimpulkan bahwa manusia akan baik apabila ia menjaga lidah dan hatinya dari hal-hal buruk. Misalnya dari memfitnah, ghibah, dengki, dan sebagainya. Sebaliknya akan celaka manusia apabila tidak bisa menjaga lidah dan hatinya dari hal-hal yg sebenarnya tidak ada manfaatnya bagi kehidupan dirinya maupun kehidupan orang lain. Dengan demikian sangatlah jelas bagi generasi muda bahwa al-Quran sangat menganjurkan agar generasi muda benar-benar bisa berpegang teguh pada tali ajaran Allah baik dalam dimensi ketauhidannya(hablum minallah) maupun dalam dimensi hubungan sosialnya(hablum minannas).
Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kita yg menginginkan generasi mendatang sebagai generasi yg memiliki iman yg kokoh dan mampu memakmurkan bumi titipan Allah ini. Amin..

KANDUNGAN TAUHID DALAM SURAT AL FATIHAH


 


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

           Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya suatu ilmu yang kebutuhan umat manusia terhadapnya semakin besar maka konsekuensinya adalah dalil-dalil yang menunjukkan kepadanya juga semakin jelas, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.” (lihat Syarh Al ‘Aqidah ath Thahawiyah, hal. 86)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, membaca surat Al Fatihah barangkali sudah menjadi perkara yang biasa bahkan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena di setiap raka’at shalat, surat ini selalu kita baca. Meskipun demikian, kita sering lalai dari merenungi hikmah dan pelajaran penting yang ada di dalamnya.
          Apabila kita cermati penjelasan para ulama, baik di dalam kitab tafsir, kitab hadits, atau kitab seputar akidah dan tauhid, akan kita temukan bahwa surat Al Fatihah ini menyimpan sedemikian banyak ajaran Islam, dan yang paling utama adalah mengenai tauhid. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak beberapa keterangan berikut.

Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah satu-satunya pencipta, penguasa, dan pengatur alam semesta. Keyakinan ini merupakan salah satu perkara penting dalam iman seorang muslim. Kita yakin, bahwa Allah semata yang menciptakan alam semesta ini. Kita juga yakin, bahwa Allah semata yang mengatur dan menguasainya. Inilah yang dikenal dalam istilah para ulama dengan nama tauhid rububiyah.
Nah, di dalam surat Al Fatihah ini, tauhid jenis ini terkandung di dalam beberapa ayat. Diantaranya adalah pada ucapan hamdalah <AlḥamdulillÄhi Rabbil ‘aalamiin> yang artinya, “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam”. Di dalamnya terdapat penegasan bahwa Allah adalah Rabb, yaitu penguasa dan pemelihara alam semesta. Inilah yang disebut dengan tauhid rububiyah. Demikian juga, di dalam ayat <Maaliki yaumid diin> yang artinya, “Yang merajai pada hari pembalasan”. Di dalamnya juga terkandung pengakuan bahwa Allah yang menguasai hari kiamat, sebagaimana Allah adalah penguasa jagad raya sebelum terjadinya kiamat.

Tauhid Asma’ wa Shifat
Tauhid asma’ wa shifat adalah keyakinan tentang kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Kita mengimani bahwa Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, sebagaimana dalam ayat <Ar Raḥmaanir Raḥiim>. Allah memiliki nama-nama yang maha indah, dan biasa dikenal dengan istilah asma’ul husna. Selain itu, Allah juga memiliki sifat-sifat yang mulia.

Diantara sifat Allah yang disebutkan di dalam surat ini adalah Allah men-tarbiyah seluruh alam. Allah memiliki sifat kasih sayang. Dan Allah memiliki kekuasaan. Allah maha terpuji dengan segala nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh sebab itu di awal surat ini kita membaca <AlḥamdulillÄhi Rabbil ‘aalamiin>. Di dalamnya terkandung sanjungan kepada Allah, dan salah satu sebabnya adalah karena kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Tauhid Uluhiyah atau Tauhid Ibadah
Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah perbuatan hamba dalam bentuk mengesakan Allah dalam beribadah. Artinya dia menyembah hanya kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya. Inilah intisari dan hakikat tauhid yang sebenarnya. Tidaklah seorang dikatakan bertauhid apabila belum melaksanakan tauhid jenis ini.

Inilah yang terkandung di dalam ayat <Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin> yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”. Ini pula yang terkandung di dalam nama “Allah”, karena nama ini bermakna “pemilik sifat ketuhanan/uluhiyah yang wajib disembah oleh seluruh makhluk”.

Makna tauhid ini adalah bahwasanya segala macam ibadah hanya ditujukan kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Inilah misi utama dakwah para rasul dan kandungan pokok kitab-kitab suci yang Allah turunkan. Inilah cabang keimanan yang paling utama dan pondasi keislaman yang paling mendasar. Tidak sah keislaman seorang hamba tanpa mewujudkan tauhid ini di dalam hidupnya. Dengan tauhid inilah seorang hamba akan bisa masuk surga dan terbebas dari neraka.
Oleh sebab itu, ibadah apa pun -seperti shalat, doa, sembelihan, nadzar, istighotsah, dan sebagainya- hanya boleh ditujukan kepada Allah. Inilah kandungan dari kalimat tauhid Laa ilaaha illallÄh. Di dalamnya terkandung penafian dan penetapan. Penafian segala sesembahan selain Allah, artinya kita yakini bahwa segala yang disembah selain Allah adalah batil. Kemudian di dalamnya juga terkandung penetapan, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Oleh sebab itu, seorang yang bertauhid harus meninggalkan segala bentuk kesyirikan, yang tampak maupun yang tersembunyi, yang besar maupun yang kecil.

Syirik memiliki bahaya yang sangat banyak, diantaranya adalah menyebabkan kekal di neraka, menghalangi masuk surga, menghapuskan amalan, terhalang dari ampunan Allah, terhalang dari keamanan dan hidayah. Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Ibadah kepada Allah tidaklah diterima apabila tercampur dengan syirik. Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun” (QS. An Nisaa’ : 36)

Para ulama juga menjelaskan, bahwa dengan menghayati serta mengamalkan kandungan <Iyyaaka na’budu> seorang hamba akan terlepas dari penyakit riya’ yang itu merupakan salah satu bentuk kesyirikan. Karena orang yang riya’ tidak ikhlas dalam beribadah. Dengan <Iyyaaka na’budu>, maka dia akan terus berusaha memurnikan amalannya untuk Allah.

Adapun dengan menghayati dan mengamalkan kandungan <Iyyaaka nasta’iin> maka seorang hamba akan
terlepas dari penyakit ujub yaitu merasa bangga dan hebat dengan amalnya. Karena dia menyadari bahwa segala kebaikan di tangan Allah, bukan di tangannya. Oleh sebab itu dia meyakini bahwa dengan pertolongan Allah semata dia bisa melakukan kebaikan, bukan dengan kekuatan dan kehebatan dirinya.

Para ulama kita juga mengatakan, bahwa riya’ -beramal karena ingin dilihat orang atau mencari popularitas- dan ujub adalah termasuk perkara yang bisa merusak bahkan membatalkan pahala amalan. Bukan itu saja, ia termasuk dosa syirik yang bisa menyeret pelakunya ke dalam neraka. Oleh sebab itu hendaklah kita hayati ayat yang kita baca ini dengan sebaik-baiknya, bukan sekedar dibaca dan dihafalkan kata-katanya.
Tiga Pilar Ibadah

Demikian pula, apabila kita membaca kitab para ulama, jelaslah bagi kita bahwa di dalam surat Al Fatihah ini terkandung pokok-pokok ibadah dan keimanan. Di dalam ayat <AlḥamdulillÄh> terkandung pilar kecintaan atau mahabbah. Di dalam ayat <Ar Raḥmaanir rahiim> terkandung pilar harapan atau roja’. Dan di dalam ayat <Maaliki yaumid diin> terkandung pilar rasa takut atau khauf.

Nah, ibadah kepada Allah harus ditopang dengan ketiga macam amalan hati ini, yaitu cinta, takut dan harap. Beribadah kepada Allah tanpa kecintaan seperti badan tanpa ruh. Beribadah kepada Allah tanpa harapan akan melahirkan keputus asaan terhadap rahmat Allah. Dan beribadah kepada Allah tanpa rasa takut akan menyebabkan merasa aman dari hukuman Allah. Padahal, putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari hukuman Allah termasuk dalam jajaran dosa-dosa besar.

Ibadah kepada Allah ini dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan. Karena hakikat ibadah adalah perendahan diri kepada Allah yang dibarengi puncak kecintaan dan pengagungan, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah ini mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak/lahir maupun yang tersembunyi/batin. Nah, segala macam ibadah itu tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah semata.
Ibadah Harus Dengan Dasar Ilmu

Ibadah kepada Allah pun tidak akan diterima kecuali apabila dilandasi dengan keimanan, keikhlasan, dan mengikuti tuntunan. Oleh sebab itu di dalam surat Al Fatihah kita memohon kepada Allah hidayah (yakni ayat <Ihdinash shiraathal mustaqiim> -red), yang di dalamnya tercakup hidayah ilmu dan hidayah berupa amalan. Agar kita bisa mendapatkan ilmu yang benar, dan agar kita bisa mengamalkan ilmu yang telah kita peroleh. Inilah jalan ‘orang-orang yang diberikan kenikmatan’, <shiraathalladziina an’amta ‘alaihim>.
Adapun jalan ‘orang yang dimurkai’ <al maghdhuubi ‘alaihim>, adalah jalan orang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, sebagaimana orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Adapun jalan ‘orang-orang sesat’, <adh dhaalliin>, adalah jalan orang yang beramal tanpa bekal ilmu, sebagaimana orang-orang Nashara. Kaum yang dimurkai menyimpang karena niat yang rusak, sedangkan kaum yang sesat menyimpang karena pemahaman yang rusak. Oleh sebab itu para ulama menyatakan bahwa ‘kelurusan niat dan benarnya pemahaman’ adalah salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Itulah yang setiap hari kita minta dalam doa kita <Ihdinash shiraathal mustaqiim>, yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Tidak mungkin ibadah kita ikhlas jika kita tidak mengerti apa itu ikhlas dan apa saja yang merusaknya, sebagaimana tidak mungkin kita beribadah mengikuti tuntunan (As Sunnah) jika kita tidak mengerti seperti apa tuntunan itu dan apa saja yang tidak dituntunkan. Sementara ilmu tentang itu semuanya hanya akan bisa kita gali dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dan itu semua akan terwujud dengan taufik dan pertolongan Allah semata, bukan karena kepintaran, kecerdasan, pengalaman, atau kepandaian kita.
Inilah sekilas kandungan tauhid dalam surat Al Fatihah. Apa-apa yang dikemukakan di sini tentunya ibarat setetes air di tengah samudera. Laa haula wa laa quwwata illaa billÄh.
Penulis : Ustadz Ari Wahyudi, S.Si
(Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)